Social Icons

Selasa, 19 Mei 2015

PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI


A.    KONSEPSI DAN URGENSI
            Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam.
Rasulullah, para nabi dan para sahabat adalah para profesional yang memiliki keahlian dan pekerja keras. Mereka selalu menganjurkan dan menteladani orang lain untuk mengerjakan hal yang sama. Profesi nabi Idris adalah tukang jahit dan nabi Daud adalah tukang besi pembuat senjata. Jika kita ingin mencontoh mereka maka yakinkan diri kita juga telah mempunyai profesi dan semangat bekerja keras.
Profesi yang dikembangkan di lingkungan kita seperti profesi dosen, profesi verifikator keuangan, profesi ahli hukum, profesi laboran, profesi administratur, profesi supir, dan lainnya merupakan profesi yang harus kita kerjakan untuk kemaslahatan masyakat banyak. Satu langkah setelah meyakini memiliki profesi maka wajib hukumnya kita untuk bekerja keras. InsyaAllah kita akan dilimpahkan rezeki yang halal sekaligus pahala atas ibadah pekerjaan yang kita lakukan.
Melengkapi bekerja keras dan profesional adalah praktek bersikap dan berperilaku mencontoh Rasulullah yaitu bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Sifat siddiq adalah dapat dipercaya dan jujur. Sifat fathonah adalah harus pintar. Sifat amanah adalah melaksanakan tugas yang dibebankan dan tabligh adalah mampu melakukan komunikasi yang baik.
Wujud dari kita bekerja selain mendapat rezeki halal adalah pengakuan dari lingkungan atas prestasi kerja kita. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).
Allah juga telah menjanjikan kita mempunyai peluang memperoleh rezeki yang luas asalkan bekerja profesional dan cerdas melalui etos kerja yang tinggi. Islam telah mengajarkan bagaimana mempraktekan etos kerja yang tinggi. Ada 4 (empat) prinsip etos kerja tinggi yang diajarkan Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam “syu’bul Iman”.
Pertama, bekerja secara halal. Syukur Alhamdulillah kita telah memiliki pekerjaan di Unpad yang terkategorikan halal yaitu melaksanakan layanan pendidikan untuk masyarakat. Kedua, kita bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain apalagi menjadi benalu bagi orang lain. Makna terdalam adalah kita dilarang untuk bersifat selalu meminta imbalan diluar kemampuan lembaga tempat kita bekerja. Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tegasnya seseorang harus mengatur rezeki yang diperoleh hasil dari memerah keringat untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan menghindarkan perilaku boros. Keempat, bekerja untuk meringankan hidup tetangga. Artinya kita setelah memperoleh rezeki tidak boleh egois dan harus peduli untuk meringankan kesulitan ekonomi tetangga kita.
Bekerja secara cerdas juga memerlukan tambahan energi yang datang dari ridha Allah melalui doa untuk para kerabat kerja dan untuk lembaga Unpad sendiri. Tahukah kita akan sosok Fatimah puteri Rasulullah yang selalu rela untuk mementingkan mendoakan orang lain dibandingkan diri dan keluaganya sendiri. Apakah kita pernah mendoakan pemimpin, kerabat kerja dan kemajuan Unpad? Doa yang dilakukan dan jika malaikat mendengar maka merekapun akan mendoakan kita yang mendoakan orang lain tersebut, seperti diriwayatkan oleh HR. Muslim dan Abu Dawud, “Apabila salah seorang mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh orang yang didoakan tersebut maka para malaikat berkata ‘Amin, semoga engkau memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu’.
Mengukir prestasi kerja, memperoleh rezeki yang berkah serta mendoakan kemajuan lembaga InsyaAllah menjadikan kehidupan kita akan lebih baik lagi. Kita seyogyanya menjadikan Unpad sebagai rumah tempat bekerja yang menyenangkan, “Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat ketenangan.” (an-Nahl: 80).
Akhir kata, kita atau minimal saya pribadi seyogyanya selalu mencoba konsisten bekerja keras, cerdas dan profesional sehingga arus rezeki menjadi lapang dan luas serta selalu berdoa Unpad semakin maju sehingga tambahan rezeki Unpad akan mengalir kepada kita semua. Aamiin.
            Cerdas atau berakal dalam Al Qur’an adalah ketika berpadunya pikir dengan dzikir dalam diri seorang muslim sejati. Pikir adalah kerja otak dan dzikir merupakan kerja hati, hati yang sehat dan hidup yakni selalu ingat kepada Allah SWT. Didalam Al Qur’an penyebutan kata berakal atau berfikir tersebar tidak kurang dalam 19 ayat, Seperti Firman Allah SWT dalam QS.Ar Ra’d ayat : 19 أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ ” Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” Ternyata orang-orang yang berakal bukanlah orang-orang yang hanya mengandalkan pikir otak saja. Bahkan orang-orang yang hanya mau menggunakan pikir saja tanpa menggunakan hati bisa disebut sebaliknya yakni  orang yang bodoh. Dan kedudukan manusia yang mengedepankan logika pikir saja ternyata hanya berselisih sedikit dengan seekor hewan ternak. أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا “atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”  QS. Al Furqan :44 Seseorang yang hatinya tidak hidup, akan sangat kesulitan dalam mengendalikan pikir. Faktanya adalah banyak sekali orang-orang yang pintar menggunakan otak tetapi tidak mau menggunakan hati. Yang terjadi adalah mereka selalu melogika apa yang dia lihat dan ucapkan.
•“Dimanakah Allah, bukankah bumi ini berputar dengan sendirinya, sebagai bagian dari hukum alam?”
•“Jangan berkhayal, apakah mungkin tulang-belulang (andai tersisa) dari seorang manusia bisa hidup kembali bahkan berkumpul di suatu padang keadilan?”
•“Lia eden itu sama dengan Nabi Muhammad lho, sebab ketika awal berdakwah mendapat tantangan dahsyat dari umat””
•“Porno atau tidak itu sangat relatif, sebab sangat tergantung dari apa yang terpikir dalam otak manusia nya masing-masing”
•“Kerudung (jilbab) itu bagian dari budaya, jadi bukanlah suatu keharusan..yang penting tetap sopan”
•“Kebohongan yang kita lakukan ini boleh dilakukan yang penting demi kemaslahatan orang banyak..”
•“Lebih baik bapak dan ibu kita pindahkan dipanti jompo saja, selain lebih terawat maka akan lebih senang karena berkumpul dengan orang-orang yang sama dan sebaya..”
Itulah beberapa ungkapan dan masih banyak sekali yang lain. Yang menunjukkan sebuah pola pikir pinter yang tidak padu dengan hati yang hidup sehingga menjadi keblinger. Realita di masyarakat yang terjadi adalah adanya manusia yang secara pikir ‘lebih pandai’ tetapi hatinya tidak hidup. Atau orang dengan kemampuan berpikir ‘kurang’ tetapi hatinya tetap hidup. Nah inilah yang lebih baik  dan selamat. Idealnya sih seseorang dikaruniai kecerdasan otak yang handal tetapi hatinya juga hidup, selalu ingat kepada Allah SWT, dan itulah yang paling baik. Tetapi akan menjadi sangat berbahaya, ketika manusia yang moncer dengan otaknya tetapi hatinya tidak tersentuh atau terbimbing nilai-nilai agama. Contoh yang terjadi adalah jika mereka menempati posisi lebih tinggi dalam masyarakat, akan menindas dan juga mengakali/minteri orang-orang yang bodoh dan lemah dalam kekuasaanya. Ini berbeda dengan orang yang secara kekuatan otak minim dan hatinyapun jauh dari Allah SWT. Efeknya bagi manusia lain tidak akan secelaka yang dilakukan orang yang pintar minus moral.

B.     LANDASAN DAN TUJUAN
            Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Al-Dzariyyat:56).
Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah:30). Ayat diatas menegaskan bahwa manusia  adalah makhluk berketuhanan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk berketuhanan, wajinb baginya mengabdi, tunduk dan patuh, serta berpegang teguh pada ajaran agama Allah yakni al-Islam. Sementara sebagai makhluk sosial yang merupakan bagian dari aktualisasi sebagai makhluk berketuhanan, mereka harus menjalin shilaturahmi dan  kerjasama yang baik, jujur, amanah, yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dari kondisi tersebut, manusia menjadi  berkembang secara dinamis, sehingga kebutuhan hidup manusia juga semakin berkembang, begitu juga tantangan hidupnya pun berkembang pesat. Sehingga ketergantungan manusia kepada sesamanya juga semakin tinggi. Dari sini kemudian, lahirlah lapangan pekerjaan, yang dengan lapangan pekerjaan seseorang dapat memenuhi kebutuhannya  sekaligus menolong pemenuhan kebutuhan orang lain.

Pengertian Profesionalisme
  Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok, yang disebut profesi,  artinya pekerjaan tersebut bukan pengisi waktu  luang atau sebagai hobi belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan da isme sebagai pandangan hidup, maka profesional dapat diartikan sebagai pandangan untuk selalu berfikir,  berpandirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, kerja keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasila pekerjaannya.  Dengan pengertian tersebut, profesionalisme sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu perusahaan, organisasi dan lembaga. Perusahaan, organisasi dan sejenisnya tersebut kalau ingin berhasil program-program, maka harus melibatkan orang-orang yang mampu bekrja secara profesional. Tanpa sikap dan prilaku profesional maka lembaga, organisasi tersebut tidak akan memperoleh hasil yang maksimal, bahkan bisa mengalami kebangkrutan.  Dalam realitas masyarakat, banyak ditemukan adanya perusahaan, organisasi, dan lembaga yang maju, sedang atau biasa-biasa. Diantara faktor yang mempengaruhi kemajuan dan kemunduran perusahaan atau lembaga tersebut adalah sikap dan perilaku profesional dari orang-orang yang terlibat didalamnya, terutama para peminpinnya.
 Nilai-nilai Islam yang Mendasari Profesionalisme
  Ajaran Islam sebagai agama universal sangat kaya akan pesan-pesan yang mendidik bagi muslim untuk menjadi umat terbaik, menjadi khalifa, yang mengatur dengan baik bumi dan se isinya. Pesan-pesan sangat mendorong kepada setiap muslim untuk berbuat dan bekerja secara profesional, yakni bekerja dengan benar, optimal, jujur, disiplan dan tekun.  Akhlak Islam yang di ajarkan olehNabiyullah Muhammad SAW, memiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Ini dapat dilihat pada
pengertian sifat-sifat akhlak Nabi sebagai berikut :
1.  Sifat kejujuran (shiddiq).  Kejujuran ini menjadi salah satu dasar yang paling penting untuk membangun profesionalisme. Hampir semua bentuk uasha yang dikerjakan bersama menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh karena itu kejujuran menjadi sifat wajib bagi Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di ajarkan oleh islam melalui al-Qur’an dan sunah Nabi. Kegiatan yang dikembangkan di dunia organisasi, perusahan dan lembaga modern saat ini sangat ditentukan oleh kejujuran. Begitu juga  tegaknya negara sangat ditentukan oleh sikap hidup jujur para pemimpinnya. Ketika para pemimpinya tidak jujur dan korup, maka negara itu menghadapi problem nasional yang sangat berat, dan sangat sulit untuk membangkitkan kembali.
2.  Sifat  tanggung jawab (amanah). Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat akhlak yang sangat diperlukan untuk membangun profesionalisme. Suatu perusahaan/organisasi/lembaga apapun pasti hancur bila orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak amanah.
3.  Sifat komunikatif (tabligh). Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan transparan. Dengan sifat komunikatif, seorang penanggung jawab suatu pekerjaan akna dapat menjalin kerjasama dengan orang lain lebih lancar. Ia dapat juga meyakinkan rekanannya untuk melakukan kerja sama atau melaksanakan visi dan misi yang disampaikan. Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di akses semua pihak, tidak ada kecurigaan, sehingga semua masyarakat anggotanya dan rekan kerjasamanya akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada kepemimpinanny. Dengan begitu, perjalanan sebuah organisasi akan berjalan lebih lanca, serta mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak.
4.   Sifat cerdas (fathanah). Dengan kecerdasannya seorang profesional akan dapat melihat peluang dan menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Dalam sebuah organisasi, kepemimpina yang cerdas akan cepat dan tepat dalm memahami problematikayang ada di lembaganya. Ia  cepat memahami aspirasi anggotanya, sehingga setiap peluang dapat segera dimanfaatkan  secara optimal dan problem dapat dipecahkan dengan cepat dan tepat sasaran.

 Disamping itu, masih terdapat pula nilai-nilai islamyang dapat mendasari
pengembangan profesionalisme, yaitu :
1.  Bersikap positif dan berfikir positif (husnuzh zhan ).  Berpikir positif akan mendorong setiap orang melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif mendorong  seseorang untuk berfikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. Husnuzh zhan tersebut, tidak saja ditujukan kepada sesama kawan dalam bekerja, tetapi yang paling utama adalah bersikap dan berfikir positif kepada Allah SWT. Dengan pemikiran tersebut, seseorang akan lebih lebih bersikap objektif dan optimistik. Apabila ia berhasil dalm usahanya tidak menjadi sombong dan lupa diri, dan apabila gagal tidak mudah putus asa, dan menyalahkan orang lain. Sukses dan gagl merupakan pelajaran yang harus diambil untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, dengan selalu bertawakal kepada Allah SWT.
2.  Memperbanyak shilaturahhim. Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda keimanan. Namun dalam dunia profesi, shilaturahhim sering dijumpai dalam bentuk tradisi lobi. Dalam tradisi ini akan terjadi saling belajar.
3.  Disiplin waktu dan menepati janji. Begitu pentingnya disiplin waktu, al-Qur’an
menegaskan makna waktu bagi kehidupan manusia dalam surat al-Ashr, yang diawali dengan sumpah ”Demi Waktu”. Begitu juga menepati  janji, al-Qur’an menegaskan hal tersebut dalam ayat  pertama al-Maidah, sebelum memasuki pesan-pesan penting lainnya. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Al-Maaidah/05:01). Yang dimaksud aqad-aqad adalah janji-janji sesama manusia.
4.  Bertindak efektif dan efisien.  Bertindak efektif artinya merencanakan , mengerjakan dan mengevaluasi sebuah kegitan dengan tepat sasaran. Sedangkan efisien adalah penggunaan fasilitas  kerja dengan cukup, tidak boros dan memenuhi sasaran, juga melakukan sesuatu yang memang diperlukan dan berguna. Islam sangat menganjurkan sikap efektif dan efesien.
5.  Memberikan upah secara tepat dan cepat. Ini sesuai dengan Hadist Nabi, yang mengatakan berikan upah kadarnya, akan mendorong seseorang pekerja atau pegawai dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya secara tepat pula. Sementara apabila upah ditunda, seorang  pegawai akan bermalas-malas karena dia harus memikirkan beban kebutuhannya dan merasa karya-karyanya tidak dihargai secara memadai.

C.    KARAKTERISTIK
            Pertama; Shidiq (kejujuran). Bersungguh-sungguh bekerja merupakan ciri khas profesionalisme, namun apalah artinya kesungguhan itu jika tidak dibarengi dengan sikap yang jujur.Kejujuran adalah modal sangat berharga bagi setiap manusia dalam menjalankan segenap aktifitas kehidupannya apapun profesinya. Alqur’an memuji orang-orang yang selalu berprilaku jujur, sebagaimana firman-Nya: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur (disebabkan) kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah karena Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Dan itulah keberuntungan yang paling besar” (QS Al-Maaidah: 119).
Kedua: Amanah (dapat dipercaya). Salah satu komitmen penting yang harus kita bangun dalam karir hidup kita, selain kejujuran, ialah membangun kepercayaan utamanya dari orang lain Nabi Muhammad saw berhasil menuai sukses, dalam sisi apapun, setelah beliau berhasil membangun kepercayaan orang lain sehingga mendapat julukan sebaga Al amin (yang terpercaya). Memang, komitmen dan kesuksesan hanya akan datang kalau kita memiliki kredibilitas dan kepercayaan.
Dalam pandangan Islam, profesionalisme tak dapat dipisahkan dari amanah, karena sifat inilah yang akan selalu membingkai profesionalitas pekerjaan kita tetap pada jalurnya yang benar. Orang yang tidak amanah berarti ia tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. Rasulullah saw menjelaskan, “Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancurannya”, sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana maksud menyia-nyiakan amanah itu?”, Nabi saw menjawab, “Yaitu menyerahkan suatu urusan ditangani oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR Bukhari).
Karena itu hendaknya kita dalam menjalankan tugas dan kewajiban harus dengan sungguh-sungguh, memperdalam ilmu tentang bidang pekerjaan tersebut dan melaksanakan sesuai apa yang telah ditentukan baik secara jam kerja,maupun tupoksi yang telah diberikan.
Ketiga; Tabligh (keterbukaan). Secara harfiah tabligh maknanya menyampaikan sesuatu apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Perilaku terbuka atau transparan penting dimiliki seorang profesional. Sulit membayangkan profesionalitas kinerja seseorang jika ia tidak menanamkan sifat ini dalam dirinya.
Transparansi sangat dekat hubungannya dengan kejujuran dan sifat amanah, bahkan ia merupakan refleksi dari kedua sifat di atas. Orang yang jujur dan amanah tentu tak akan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diungkap. Ia mampu mengungkap kebenaran sekalipun hal itu pahit, baik bagi dirinya maupun karirnya. (Qul al-Haqq walau kaana murran).
Keempat; Fathanah (cerdas dan bijaksana). Tak dapat dipungkiri, di dunia yang lebih mengedepankan aspek formalitas daripada moralitas, seperti saat ini, intelektualitas merupakan paramater pertama untuk mengukur kemampuan seseorang.
Fathanah bukan sekadar cerdas tetapi juga visioner dan inovatif, tanggap menangkap peluang untuk maju serta menciptakan sesuatu yang tepat guna, efisien dan berdaya saing tinggi. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin itu, (harus) cerdas dan cepat tanggap”.
Jelasnya, untuk menjadi profesional, seorang muslim hendaknya mempunyai empat karakter sebagaimana disebutkan di atas. Shidq (Kredibilitas), Amanah (memiliki kapabilitas), Tabligh (transparansi) dan Fathanah (intelektual), yang juga adalah sifat utama pribadi Rasulullah saw, merupakan kunci penting guna memenangkan persaingan pasar dunia global.
Selain nilai-nilai dasar tersebut, seorang profesional muslim hendaknya juga mempertahankan tujuan dasar. Di manapun dan apapun profesi kita tujuan intinya cuma satu, yakni dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt. Sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak Aku menciptakan golongan jin dan manusia selain untuk mengabdi kepada-Ku” (QS adz-Dzariyat: 56).
Dengan demikian, jika kita berhasil mempertahankan dua hal di atas(nilai dasar dan tujuan dasar). Maka Allah Ta’ala pun berjanji akan memberikan dua hal, seperti disebutkan dalam ayat di surah an-Nuur di atas, yaitu; balasan yang terbaik dan tambahan karunia dari-Nya.
“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS An-Nuur: 38).

D.    PANDANGAN ISLAM
Dari uraian di atas, dapat disipulkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan arti penting amal dan kerja. Islam mengajarkan bahwa kerja kerja harus dilaksanakan
berdasarkan prinsip sebagai berikut :
1. Bahwa pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan pengetahuan yang memadai. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
Dan janganlah  kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al-Isra/17:36). 2.  Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahlia. Seperti sabda Nabi :  Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran. (Hadist Bukhari).
3.  berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik. Dalm Islam, amal, dan kerja harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga makna amal shalih dapat dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik mutu dihadapan Allah maupun dihadapan manusia rekanan kerjanya.
4.  Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan masyarakatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggunga jawab.
5.  Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi
6.  Pengupahan harus dilakukan secara tepat da sesuai dengan amal atau karya yang dihasilkannya.





E.     IMAN, ILMU, AMAL KUNCI PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI
`           Mentrasformasikan ilmu itu menjadi amal perbuatan, baik  bagi diri guru sendiri maupun para siswa serta seluruh warga sekolah, sehingga nampak kepribadian Islam atau religius culture mewarnai dunia pendidikan atau sekolah.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang". Atas dasar amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahan Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
•         Iman dan amal shalih dalam al-Qur’an pada umumnya disandingkan. Artinya, iman seseorang tidak sempurna jika tidak disertai amal (kinerja) yang baik.
•         Iman dapat membuahkan kinerja yang baik, jika dilengkapi dengan ilmu yang memadai.
•         Bekerja dapat membuahkan produktivitas dan kreativitas yang bernilai jika dilandasi keyakinan bahwa Allah itu melihat kinerja kita.
•         Bekerja pada akhirnya harus dapat menambah dan meningkatkan: iman, ilmu, amal, dan rezeki yang halal dengan aktualisasi STAF tersebut.
•         Rasul Saw bersabda “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibn Asakir)








F.     SHIDIQ, AMANAH, TABLIGH, FATHONAH KUNCI PROFESIONALITAS CERDAS ISLAMI
1. Shidiq (Kejujuran)
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Kejujuran
الصِدْق
(Jujur, benar, bersahabat, tidak mendustakan, bersedekah)   
1.Bersikap obyektif
2.Berpikir positif
3.Bertutur kata apa adanya
4.Berbuat sesuai hati nurani
5.Bekerjasama demi kebaikan
6.Anti berdusta (berbohong)
7.Anti manipulasi
8.Anti inefisiensi

2. Amanah (Keterpercayaan
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Amanah          
1.Bersikap teguh pendirian dan hati-hati
2.Berpikir masa depan
3.Bertutur kata penuh kearifan
4.Bertindak penuh inisiatif dan tanggung jawab
5.Berlaku adil dan demokratis
6.Bersemangat dalam  penegakan disiplin
7.Menghargai dan memaknai waktu
8.Anti  penyalahgunaan wewenang/jabatan
9.Anti  pemborosan
10.Anti ketidakdisiplinan

3. Tabligh (Menyampaikan)     
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Tabligh
تبليغ
(sampai, menyampaikan, fasih, komunikatif terbuka)           
1.Bersikap Terbuka
2.Berpikir Logis
3.Berkomunikasi persuasif
4.Bertindak Transparan
5.Bersemangat dalam amar ma’ruf nahi munkar
6.Anti permufakatan dan kerjasama dalam rangka kejahatan
7.Anti ketertutupan 
8.Anti kolusi 

4. Fathanah (Kecerdasan)
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Fathanah        
1.Bersikap wajar dan simpatik
2.Berpikir rasional dan proporsional
3.Bertutur kata lembut dan sopan
4.Berkarya kreatif
5.Berjiwa sosial
6.Bersemangat dalam meraih prestasi dan produktivitas
7.Anti kebodohan
8.Anti kemunduran
9.Anti ketertinggalan
10.Anti kemiskinan (intelektual, struktural, kultural, sosial dan moral)

Aktualisasi Etos dan Etika Kerja
1. Berupaya menempatkan: Right man on the right place and in the right time = إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة artinya: “Jika suatu urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”.
2. Menjaga amanah (Terpercaya, akuntabel, trust) yang diberikan kepadanya. Nabi Saw. Bersabda:إذا ضيعت الأمانة إلى غير أهلها فانتظر الساعة artinya: “Apabila amanah  itu diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”
3. Kerja harus itqan (tekun, profesional, tuntas) =
  إن الله يحب أحدكم إذا عمل أن يتقنه (رواه البيهقي)
      Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika bekerja ia melakukannya dengan profesional.” (HR. al-Baihaqi)
4. Tidak melakukan eksploitasi, penzhaliman, perbudakan. Hak-hak diberikan sesuai dengan kewajiban yang dibebankan kepada SDM. Nabi bersabda: اعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه (Berikanlah upah/honornya sebelum kering keringatnya.”
5. Membina relasi sosial dengan baik dan beradab (Mu’amalah hasanah). Nabi Saw.  خالق أو عامل الناس بخلق حسن (Perlakukan/pergauli manusia dengan akhlak yang baik) (HR. Musl.im)
6. Optimalisasi pencapaian target (tujuan korporasi, institusi), pemanfaatan waktu, dan  disiplin kerja = اغتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك، وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك
7. Penerapan Self control, waskat, dan penuh tanggung jawab dalam bekerja= وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ... + إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
8. Berorientasi terbaik (memilih yang terbaik, bekerja dan berprestasi terbaik). Allah berfirman: : هو الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسنكم عملا (Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya). Nabi bersabd: الناس معادن خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام  (Manusia itu ibarat tambang; yang terbaik di masa jahiliyah adalah juga yang terbaik pada masa Islam).
9. Meningkatkan kualitas diri, kapabilitas, dan keahlian dengan banyak belajar dan berlatih demi peningkatan kinerja yang lebih baik. Allah berfirman: إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها (Jika kalian berbuat yang terbaik, maka pada hakikatnya kalian berbuat untuk diri kalian sendiri; sebaliknya jika berbuat jahat, maka akibatnya juga menimpa diri kalian sendiri.” (al-Isra’ [17]: 7)

Soal !
1)      Apa yang di maksud dengan Profesional?
2)      Apa yang dimaksud Cerdas dalam Al-Qur'an?
3)      Jelaskan hubungan antara profesional dan cerdas dengan etos kerja?
4)      Jelaskan sifat-sifat yang menjadi landasan dalam profesionalisme?
5)      Jelaskan nilai-nilai yang mendasari profesionalisme?
6)      Apa tujuan dasar anda dalam membentuk nilai-nilai dasar karakteristik?
7)      jelaskan pandangan islam tentang profesional dan cerdas islam?
8)      Apa hubungan iman , amal , dan ilmu dalam kunci profesional dan cerdas islami?
9)      Sebutkan UUD yang mengatur tentang iman , ilmu , amal dalam pendidikan?

10)  Sebutkan Aktualisasi Etos dan Etika kerja?

| LG |

1 komentar:

  1. Strange "water hack" burns 2 lbs in your sleep

    Over 160 thousand women and men are using a easy and secret "liquid hack" to drop 1-2lbs each and every night as they sleep.

    It's painless and it works with anybody.

    Here are the easy steps for this hack:

    1) Hold a drinking glass and fill it half full

    2) Now learn this awesome hack

    you'll be 1-2lbs thinner when you wake up!

    BalasHapus