Social Icons

Selasa, 19 Mei 2015

KEBERSIHAN DAN KESEHATAN


A.    KONSEPSI DAN KARAKTERISTIK
            Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya-nya, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif1, harmonis, jelas dan logis antar sesame makhluk. Ajaran yang menjadi dasar dalam membangun relasa vertikal dank horizontal ini adalah kebersiahan. Bersih merupakan salah salah satu pokok dalam memelihara kelangsungan eksistensinya, sehingga tidak ada satupun makhluk kecuali berusaha untuk membersihkan dirinya.
Bersih adalah kondisi sesuatu yang bebas dari hal yang kotor. Jadi benda yang di katakan bersih apabila tidak ada kotoran berupa apa pun. Maka dari pengertian ini dapahi diketahui bahwa kondisi bersih berarti sesuatu hal yang harus dijaga dan dirawat dari hal-hal yang kotor yang dapat dihinggapi oleh kuman serta menjadi sarang penyakit.
Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. Yaitu istilah thaharah, nazhafah, tazkiyah, dan fitrah. Thaharah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan badani sebagai syarat untuk melaksanakan ibadah. Nazhafa biasanya gunakan untuk menyebut lingkungan sekitar yang bersih. Tazkiyah digunakan untuk menyebut kebersihan sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan fitrah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan holistik umat manusian berkenaan dengan keyakinan dan jiwa.
Semua term tersebut mengandung makna bersih zahir dan batin. Dalam ajaran Islam, bersih zahir tidak cukup tetapi dalamnya pun harus suci. Karenanya sesuatu yang tampa luarnya bersih masih harus juga disucikan betinnya. Contoh, orang yang hendak melaksanakan shalat tidak cukup hanya bersih, tetapi juga harus suci. Sunci zahir saja tidak cukup tetapi juga harus suci dari najis yang sifatnya batin, yaitu suci dari hadats kecil dan hadats besar. Bahkan seorang hanmba yang hendak menyempurnakan beribadah kepada Allah harus bersih dari perbuatan dosa, maka ia harus bertaubat, beristighfar dan berbuat baik. Karenanya, makna bersih amat holistik yang menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat
Kebersihan dalam pandangan Islam sangat erat hubungannya dengan kesehatan. Karenanya tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sehingga mampu menjadi umat pilihan dan khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. “Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia”. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya kesehatan untuk menjalankan agama secara sempurna.

A. Ajaran Bersih
Allah SWT memerintah hambanya untuk melaksanakan ibadah dengan ketentuan bersuci. Ini menunjukkan bahwa keduanya tak dapat dipisahkan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Antara ibadah dan suci terdapat hubungan yang erat dan timbal balik, di mana kesucian dianggap sebagai ibadah, dan ibadah itu sendiri dianggap tidak sah atau sempurna tanpa melalui kebersihan suci.
Al-Quran menjadikan kebersihan dan kebersihan sebagai sarana untuk menentukan kualitas ibadah. Karenanya, kebersihan selalu dijadikan sebagai syarat dari suatu ibadah baik kesucian lahiriyah maupun batiniyah. Kesucian lahiriyah berorientasi kepada sah dan tidak sahnya suatu ibadah, sedangkan kebersihan bathiniyah lebih terfokus kepada kesempurnaan suatu ibadah yaitu diterima atau tidak diterima. Kaitan yang erat ini seharusnya dapat dijadikan budaya dalam kehidupan karena pelaksanaan ibadah rutin dilaksanakan setiap hari.
Suatu contoh keterkaitan antara pelaksanaan ibadah dengan kesucian adalah rukun Islam berupa shalat, zakat, puasa dan haji. Hal yang paling menarik dari ibadah-ibadah ini ialah adanya penentuan syarat-syarat suci sebelum pelaksanaan ibadah dan tujuan suci yang hendak diraih. Syarat-syarat ini pada umumnya mengarah kepada sifat bersih baik lahir maupun batin.
Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata mengandung makna yang banyak aspek, seperti aspek kebendaan, aspek harta dan aspek jiwa. Thaharah (suci) bermakna bersih dari kotoran yang najis. Maka tidak heran jika kitab-kitab fikih Islam menempatkan bab thaharan diawal, sebelum membahas shalat. Dalam kitab suci Al-qur’an banyak ayat yang menganjurkan unntuk bersuci. Alalh berfirman :

فَطَهِّروَثِيَابَكَ
“Dan pakaianmu bersikanlah” (QS.Al Muddatsir ayat: 4)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang bertaubat dan orang – orang
yang mermbersikan diri”. ( QS. Al baqarah:222 ).

Ada dua makna dalam mengarti suci, yaitu suci dari hadats dan suci dari najis. Hadats dan najis merupakan sesuatu yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti shalat. Hadats berbeda dengan najis karena hadats berarti keadaan dan bukan suatu benda atau zat tertentu, sedangkan najis berarti benda atau zat tertentu dan bukan suatu keadaan.
Hadats adalah suatu keadaan tidak suci yang tidak dapat dilihat, tetapi wajib disucikan untuk sahnya ibadah: Hadas dibagi dua. a. Hadas kecil. Penyebabnya antara lain keluar sesuatu dari dubur atau qubul, menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya dan tidur nyeyak dalam keadan tidak duduk tetap. Cara mensucikan hadats ini ialah berwudhu. b. Hadas besar/Jenaba. Penyebanya antara lain : keluar air mani, bersetubuh, wanita melahirkan dan haidh. Cara mensucikan hadas besar ini adalah mandi yang harus dibasahi seluruh tubuhnya.
Najis adalah suatu benda kotor menurut syara' (hukum agama). Benda - benda najis meliputi : Darah, Anjing, babi nanah, bangkai selain bangkai manusia, ikan laut, dan belalang, Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul, minuman keras yang memabukkan. Najis dibagi menjadi tiga yaitu : a. Najis mukhaffafah (ringan). yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum berumurdua tahun, dan belum makan sesuatu kecuali air susu ibunya (ASI). Cara menghilangkannya cukup diperciki air pada tempat yang terkena najis tersebut.
b. Najis mutawashitha (sedang). Yaitu segala sesuatu yang keluar dari dubur/qubul manusia atau binatang, barang cair yang memabukkan, dan bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan laut dan belalang), tulang dan bulu dari hewan yang haram dimakan. Najis mutawassithah dibagi dua yaitu : Najis 'ainiyah, yaitu najis yang berwujud (tampak dan dapat dilihat), misalnya kotoran manusia atau binatang. Yang dan kedua najis hukmiyah yaitu najis ,mutawassithah yang sudah diberishkan bahu, rupa dan rasanya, sehingga najis tersebut tidak berwujud (tidak tampak dan tidak terlihat). Cara membersihkan najis muthawassithah’ainiyah cukup dibasuh untuk menghilangkan sifat-sifat najis (yakni warna, rasa dan bau) nya hilang. Sedangan cara membersihkan najis hukmiyah sama dengan najis mukhaffafah, yaitu mengalirkan air suci.
c. Najis mughallazhah (Berat). Yaitu najis anjing dan babi. Cara menghilangkannya harus dibersihkan bau, warnan dan rasanya kemudian basuh sebanyak tujuh kali dan salah satu diantaranya dicampur dengan tanah (debu).
Selain tiga macam najis diatas, masih terdapat satu najis lagi yaitu : Ma'fu (Najis yang dima'afkan) antara lain nanah atau darah yang cuma sedikit, debu atau air dari lorong-lorong yang memercik dan sulit dihindarkan (‘umum al-bahwa). Adapun kotoran memiliki makna yang lebih umum dari najis, sebab meliputi pula sesuatu yang kotor namun tidak menghalangi seseorang melakukan ibadah, contohnya tanah, debu dan lain - lain.
Nazhafah berkonotasi kebersihan untuk memelihar anggota tubuh, rumah dan lingkungan. Nazhafah identik dengan kebersihan dan keindahan. Akan tetapi seringkali kata bersih atau nazhafah dimaknai untuk menyebut sesuatu yang terhindar dari najis dan kotoran. Islam sering menyebut kata bersih untuk fisik dan jiwa, baik secara tampak maupun tidak tampak. Rasulallah Saw bersabda dalam hadist, yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang sanad nya Anas bin malik, menyebutkan.
عن ا نس بن ملك عن النبي صلي الله عليه و سلم قا ل : ان البزا ق في المسجد خطيئة وكفا ر تها د فنها
“Dari anas bin malik, dari nabi saw beliau bersabda : “ meludah di masjid itu suatu kesalahan dan dendanya adalah menguburnya“ ( HR. Ahmad ).

Rasulullah saw bersabda:
الإِسْلاَمُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَإِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلاَّ النَّظِيْفَ
“Islam itu bersih maka peliharalah kebersihan karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (Al-Hadis)

إِنَّ اللهَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ
• Sesungguhnya Allah itu bersih, Ia cinta kebersihan ( HR Turmudzi )
Agama itu di bangun diatas kebersihan ( HR. Al-Ghazali )

Tazkiyah atau zakat berkonotasi kesucian harta dan jiwa. Al-Quran mengungkapkan bahwa kata zakat seakar dengan tazkiyah. Ialah zakat mal untuk membersihkan harta bagi para muzakki sehingga harta yang dizakati adalah bersih dan yang tidak dizakati dinilai kotor, sedangkan zakat fitrah adalah untuk membersihkan fitrah para muzakki dari segala kotoran yang membelenggu.
Contoh keterkaitan bersih dari suci dengan ibadah adalah ibadah. Shalah adalah ibadah yang wajib dilaksanakan setiap hari pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam ibadah shalat diperintah untuk bersuci sebelum melakukanakannya. Para ulama memberikan rincian tentang bersih dari suci ini, mulai dari bersih diri, pakaian dan tempat pelaksanaan shalat. Perintah agar bersih dari suci sebelum melakukan shalat terdapat dalam Q.S. Al-Maidah ayat 6 yang populer disebut dengan wudhu’. Adapun anggota-anggota tubuh yang wajib untuk dibersihkan ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, sunnah mengusap kedua daun telingan, wajib membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
Kedudukan fiqh Islam dalam ibadah adalah mengatur tata cara pengabdian manusia kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Suci dan Maha Bersih, dan karenanya pengabdian ini tidak akan membuahkan hasil yang baik jika manusia tidak mensucikan dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Artinya, sifat-sifat Allah yang bersih dan suci hanya dapat diinternalisasi oleh orang-orang yang bersih dan suci. Bila kebersihan dikaitkan dengan ibadah sebagaimana disebutkan Al-Quran dalam kasus ibadah shalat, berarti menjaga kebersihan termasuk sesuatu yang diwajibkan, sama halnya dengan kewajiban shalat itu sendiri. Ini juga termasuk salah satu alasan para ulama ketika mengeluarkan kaidah fiqh: “mala yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib”. Artinya ‘apabila suatu kewajiban tidak sempurna tanpa melibatkan sarana yang lain, maka sarana yang lain itu juga hukumnya adalah wajib’.

B. Ajaran Sehat
Dalam kehidupan manusia pasti melewati tiga hal, yaitu sehat, sakit dan mati. Sehat dan sakit merupakan rona dan dinamika yang abadi selama manusia masih hidup di muka bumi. Ini yang harus disikapi dengan bijak dan adil bagi umat beragama. Sehat menurut batasan World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. WHO pada tahun 1984 menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual).
Islam sejak awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsii tentang kehidupan manusia yang pada gilirannya tentu saja dapat merubah perilakunya. perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merealisasikan ketaatan kepada perintah dan larangan Allah SWT.
Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena itu Rasulullah saw. menegaskan bahwa orang Islam yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang mukmin yang lemah seperti diungkapkan dalam hadis berikut:
المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang mukmin yang lemah”. (HR. Muslim)

Senada dengan hadis ini, ada pepatah Arab yang menyatakan:
العَقْلُ السَّلِيْمُ فِيْ الجِسْمِ السَّلِيْمِ
“Akal yang sehat terdapat dalam jiwa yang sehat”.

Mengingat pentingnya kesehatan sebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas, maka menjaga kesehatan merupakan perintah wajib bagi setiap muslim. Karena dalam kaidah hukum Islam “perintah terhadap sesuatu juga berarti perintah untuk melaksanakan perantaranya”. Artinya jika membangun badan/fisik yang sehat merupakan perintah wajib, maka melakukan perbuatan untuk menjaga kesehatan hukumnya wajib pula.
Secara filosofis, makna kesehatan menurut ajaran Islam adalah kesehatan dalam diri manusia yang meliputi sehat jasmani dan rohani atau lahir dan batin. Orang yang sehat secara jasmani dan rohani adalah orang berperilaku yang lebih mengarah pada tuntunan nilai-nilai ruhaniyah, sehingga melahirkan amal saleh. Ada empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan, ialahh lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan yang mencakup fisik, biologi, sosial, dan ekonomi mempunyai pengaruh paling besar terhadap kondisi kesehatan. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup
Ketika Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting, maka Islam juga memberikan petunjuk bagaimana hidup sehat. Di antara yang sangat ditekankan dalam Islam adalah faktor makanan. Islam menyuruh kaum muslim tidak memakan makanan kecuali makanan yang halal dan bergizi seperti dalam firman Allah SWT:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (bergizi) dari apa yang terdapat di bumi….”. (QS. Al-Baqarah: 168)

Makanan yang halal dan bergizi akan membuat tubuh kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Dengan tubuh yang sehat dan kuat ini maka kemungkinan tertular penyakit menjadi kecil. Orang yang mudah terserang penyakit adalah orang-orang yang tidak memiliki antibody yang kuat yang biasanya disebabkan kondisi fisik yang tidak sehat. Karena itu, kesehatan tubuh harus benar-benar diperhatikan dengan mengonsumsi makanan-makanan yang halal dan bergizi. Makanan yang halal dalam Islam adalah makanan-makanan yang terpilih tidak saja dari segi substansi makanannya tetapi juga dari segi asal makanan diperoleh. Konsep kesehatan dalam Islam tidak hanya mengutamakan kesehatan fisik tetapi juga psikis.
Sedangkan makanan yang bergizi adalah makanan-makanan yang lebih spesifik lagi dari sekian banyak makanan yang halal. Sehingga dengan kriteria makanan yang halal dan bergizi ini, makanan yang masuk ke dalam perut manusia benar-benar makanan yang terpilih. Islam menyadari betul bahwa perut adalah sumber munculnya berbagai macam penyakit, karena itu agar tubuh sehat, makanan yang akan masuk ke dalam perut harus disaring terlebih dahulu, baik aspek gizi maupun kehalalannya.

B.     URGENSI DAN FUNGSI
            Islam tidak membiarkan manusia di alam ini terbelenggu dalam persoalan yang tidak dapat dipecahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik”. (QS. Ali Imran: 179)

Landasan nilai tauhid mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup bersih dan sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan dari najis, hadats kecil, janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik dan jiwa. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air setelah buang air kecil atau buang air besar. Adapun, ibadah puasa memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan
Dari hidup bersih menuju hidup sehat. Islam mengantisipasi sesuatu yang mengganggu kesehatan, yaitu penyakit. Penyakit dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang harus diberantas. Sebab, orang yang terjangkit penyakit pastilah mengganggu pelaksanaan ibadah secara sempurna dan menghambat produktifitas manusia. Islam mengajarkan pengobatan, tetapi Islam lebih menekan pada pencegahan terkena penyakit. Oleh karena itu, perlu umat Islam mempunyai perspektif bahwa membangun kesadaran hidup bersih, sehat dan mengobati penyakit adalah bagian dari dakwah Islam
Karena itu, salah satu tujuan dari ajaran Islam ialah menghilangkan kemadharatan/bahaya (daf’u al-dharar) yang menimpa manusia baik bahaya yang mengancam fisik maupun psikis. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT. -menyembah dan mengabdi kepada-Nya- di muka bumi ini dengan baik. Jika kondisi fisik atau psikis seseorang tidak sehat tentu ia tidak akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah kesehatan dan menganjurkan agar manusia menjaga kesehatan.
Di samping itu, untuk mencapai tubuh yang sehat, dalam pandangan Islam tidak cukup hanya mengandalkan faktor internal tubuh manusia saja, tetapi juga faktor lingkungan. Sebaik apapun makanan yang dikonsumsi manusia, jika lingkungannya tidak sehat atau tidak bersih, maka ancaman penyakit masih tetap besar. Karena penyakit bisa datang melalui makanan yang dikonsumsi dan bisa juga melalui udara dan hewan yang kotor. Maka dari itu, Islam juga sangat menekankan kebersihan.

C.    CAKUPAN DAN RUANG LINGKUP
            Ada 2 (dua) istilah yang digunakan Islam untuk menunjuk kepada kesehatan, yaitu istilah shihhah dan ’āfiah. Bahkan dalam banyak hadits ditemukan banyak do’a yang mengandung permohonan ’āfiah di samping shihhah. Apa perbedaan makna kedua kata ini? Secara gramatikal kata shihhah lebih bersifat fisik-biologis, sementara makna ’āfiah merupakan kesehatan yang bersifat mental-psikologis. Tangan yang sehat adalah mata yang dapat memandang atau melihat benda-benda empiris. Sedangkan mata yang ’āfiah adalah mata yang hanya melihat hal-hal yang mubah dan bermanfaat. Orang yang sehat adalah orang yang memiliki kondisi tubuh yang segar, normal, dan seluruh anggota badannya dapat bekerja dengan baik. Sedangkan orang yang ’ āfiah adalah orang yang memiliki ketenangan batin atau jiwa. Maknanya lebih berorientasi psikologis. Kesimpulan ini diperkuat oleh redaksi Al-Qur’an sendiri yang menyebut perintah makan sebanyak 27 kali dalam berbagai bentuk dan konteksnya dengan senantiasa menekankan salah satu dari dua sifat halal dan thayyib (baik dan bergizi). Bahkan terdapat 4 ayat yang menggabungkan keduanya.
Dengan demikian, maka kesehatan yang dimaksud Islam adalah kesehatan fisik-biologis sekaligus kesehatan mental-psikologis. Dalam perspekif Ilmu kesehatan, dikenal juga ada beberapa bentuk kesehatan. Di antaranya kesehatan fisiologis, psikologis, dan sosial/ masyarakat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) merumuskan kesehatan sebagai ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah SWT yang wajib disyukuri dengan cara mengamalkan, memelihara, dan mengembangkannya. Ada banyak dalil yang mengilustrasikan sekaligus menegaskan tentang kebutuhan manusia kepada ketiga bentuk kesehatan di atas. Berkaitan dengan kesehatan fisik Allah SWT berfirman:
…إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
”…Allah senang kepada orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri.” (QS al-Baqarah, 2: 222)
Kata taubat dalam ayat di atas dapat melahirkan kesehatan mental. Sedangkan kata kebersihan mendatangkan kesehatan fisik.
Dalam beberapa hadits juga kita temui penjelasan Rasulullah s.a.w. tentang kesehatan fisik, antara lain adalah sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dia berkata bahwa Rasulullah saw telah bertanya (kepadaku): “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan dan selalu berjaga di malam hari?” Aku pun menjawab: “ya (benar) ya Rasulullah.”Rasulullah saw pun lalu bersabda: “Jangan kau lakukan semua itu. Berpuasalah dan berbukalah kamu, berjagalah dan tidurlah kamu, sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu, matamu mempunyai hak atas dirimu, dan isterimu pun mempunyai hak atas dirimu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).
Rasulullah s.a.w. juga pernah memberi nasihat:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا.
”Apabila kalian mendengar adanya wabah penyakit di suatu daerah, janganlah mengunjungi daerah itu, akan tetapi apabila kalian berada di daerah tersebut, janganlah meninggalkannya.” (HR al-Bukhari dari Usamah bin Yazid)
Berkaitan dengan kesehatan mental-psikologis Allah SWT menjelaskan:
يَوْمَ لا يَنفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (٨٨) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)
”Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna, (tetapi yang berguna tiada lain) kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.” (QS asy-Syu’arâ’, 26: 88-89)
Dalam sebuah hadits Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan dengan jelas masalah pentingnya memperhatikan kesehatan mental, termasuk tindakan orang tua yang dapat memengarui kepribadian dan perkembangan mental anaknya. Dalam sebuah hadits diungkapkan ada seorang anak yang sedang digendong, kemudian pipis sehingga membasahi pakaian Nabi. Ibunya merenggut bayi tersebut dengan kasar sembari memaksa si bayi untuk menghentikan pipisnya. Dalam kondisi ini, Nabi menegur si ibu dengan mengatakan: ”Jangan hentikan pipisnya, jangan renggut ia dengan kasar. Sesungguhnya pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tapi apa yang dapat menjernihkan (mengobati) luka hati sang anak (yang engkau renggut dengan kasar).”
Sebagaimana dilaporkan banyak ahli, bahwa sebagian gangguan kejiwaan yang diderita orang dewasa, dapat ditelusuri penyebabnya pada perlakuan yang diterimanya di waktu kecil. Karena itu, Islam memerintahkan kepada orang-tua agar menciptakan suasana tenang dan memberikan kepada anak perlakuan yang baik dan lemah lembut. Karena perlakuan dan sikap orang tua sangat mempengaruhi kesehatan mental si anak, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan. Perspektif Islam tentang kesehatan psikologis meliputi banyak hal yang mungkin tidak tercakup dalam ranah ilmu kesehatan modern. Ia dapat berupa sikap angkuh, sombong, iri/dengki, dendam, loba, depresi, stress berat, cemas berlebihan, goncangan jiwa lainnya.
Paparan di atas memberikan pesan bahwa kesehatan baik fisik maupun psikologis merupakan kebutuhan dasar manusia, karena Islam memerintahkan untuk memelihara, dan meningkatkan kualitasnya. Karena kebersihan dan makanan/ minuman merupakan faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia, maka Islam memerintahkan ummatnya untuk memperhatikan kebersihan dan mengkonsumsi makanan yang halal dan bergizi. Makanan halal melahirkan kesehatan ruhani pemakannya, sementara makanan bergizi membangun kesehatan jasmani mereka.







D.    TEKNIK DAN METODE
Sunnah Nabi Menjaga Kebersihan Diri
Sajadah Muslim ~ Kita mengetahui bahwa kebersihan merupakan salah satu unsur penting prilaku  beradab, dan Islam menganggap kebersihan bukan hanya sebagai ibadah, tapi juga adalah suatu sistem peradaban. Baik dalam al-Qur’an maupaun dalam hadits pernah menyinggungnya antara lain
Pertama, .Allah menyukai kebersihan, ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang     yang mensucikan diri” (QS Al-Baqarah ayat 222). Oleh karena itulah kebersihan dianggap sebagai salah satu bukti keimanan, sementara sebuah hadits shahih berbunyi “Al-thuhur syathr al-iman (kebersihan itu adalah sebagain dari iman” (HR.Muslim, Ahmad dan Tirmidz). Kebersihan yang dimaksud adalah maknawi yaitu kebersihan dari syirik, munafik dan akhlak yang tidak baik, juga kebersihan bermakna indrawi yaitu kebersihan perorangan dan kebersihan umum.
sunnah-nabi-menjaga-kebersihan
Kedua, Kebersihan adalah cara menuju kesehatan dan kekuatan, Kesehatan jasmani adalah bekal individu dan kekayaan yang tak terhingga bagi setiap muslim, kebersihan  menjadi syarat keindahan dan penampilan yang baik  dan yang dicintai oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt telah berfirman, ”Hai anak Adam Pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki Masjid.” (QS.Al-Araf ayat 31).
Karena itu Rasulullah melarang seseorang pergi ke masjid dengan memakai baju yang kumuh, sebab selain kebersihan dan penampilan yang lebih baik adalah salah satu penyebab eratnya hubungan seseorang dengan orang lain. Manusia secara fitra tidak menyukai barang yang kotor dan tidak suka melihat orang yang tidak bersih. Inilah sebabnya Rasulullah mendorong setiap  umat muslim untuk mandi sebelum ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Rasulullah saw telah memberikan perhatian terhadap masalah kebersihan badan, beliau menganjurkan cara hidup bersih dengan mandi. Rasulullah juga memberi perhatian khusus terhadap kebersihan mulut dan gigi dengan bersiwak serta perintah untuk membersihkan  rambut serta bau badan.
Demikian juga perhatian Rasulullah saw terhadap kebersihan rumah, halaman dan teras rumah, ”Sesungguhnya Allah swt itu indah, Dia menyukai keindahan, Allah itu baik, Dia menyukai kebaikkan, Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Karena itu  bersihkanlah teras rumah kalian janganlah kalian seperti orang-orang Yahudi.”(HR. Tirmidz).
Begitu juga perhatian Rasulullah pada lingkungan sekitarnya, kebersihan jalan, misalnya, beliau memberikan ancaman kepada siapa saja yang membuang sesuatu yang membahayakan dan membuang kotoran di tempat tersebut. “Barang siapa yang mengganggu orang-orang Islam di jalan tempat mereka lewat, dia pasti mendapat laknat mereka.” (HR.Tabran).
Diantara perbuatan-perbuatan itu adalah kencing didalam air, khususnya dalam air keruh, di tempat untuk mandi, serta tempat air  yang mengalir.Ketiganya perbuatan bisa mendapat laknat dari Allah swt, malaikat, dan laknat orang-orang yang shaleh.
Sunnah Nabi Dalam Berpakaian
Begitu juga dengan mandi air keruh, Rasulullah melarang kita untuk melakukannya, sebab air keruh itu adalah sumber kotoran, yakni air yang tidak mengalir dan tidak berganti dengan yang baru. Sabda Rasulullah saw, ”Janganlah  salah seorang dari kalian mandi di air yang diam, sementara ia dalam keadaan baik.” (HR.Muslim).
Contoh lainnya adalah larangan memasukkan tangan ke dalam bejana air setelah bangun dari tidur. Hal ini dikhawatirkan  tangan tersebur  sebelumnya telah menyentuh dubur atau yang lainnya ketika tidur. ”Apabila salah seorang dari kalian yang bangkit  dari tidur, janganlah menenggelamkan tangannya ke dalam tempat air sehingga ia membasuhnya tiga kali. Karena ia tidak tahu kemana tangannya  semalam.” (HR.Muslim).
Sunnah juga mensyaratkan supaya kita bersikap hati-hati terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan penyakit atau bahaya bagi jiwa dan badan kita, hal ini merupakan perintah Rasulullah saw. ”Tutuplah mangkuk tempat makanan (apabila di dalamnya terdapat makanan atau minuman) dan tutuplah bibir timba, tutuplah pintu, matikan lampu (pada waktu malam sebelum tidur), karena setan  tidak akan  dapat membuka timba dan tidak akan membuka mangkuk tempat makanan.” (HR Muslim, ibnu majah dan Ahmad).
Kita mengetahui bahwa dalam  masalah kebersihan, Islam memiliki aturan yang tidak ditandingi oleh agama manapun. Islam memandang kebersihan sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt, Bahkan  kebersihan itu bisa masuk kategori  salah satu kewajiban bagi setiap umat muslim. Hendaknya, firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah di atas tidak dijadikan sebagai jargon semata, tapi harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh rasa kesadaran.



E.     DOA, IKHTIAR, DAN TAWAKAL
            Allah SWT memerintahkan kita untuk berdo’a kepada-Nya. ” Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina" (QS Al Mu’min [40] : 60).
Do’a adalah salah satu sarana untuk pendekatan kepada Allah SWT yang biasa disebut taqarrub ilallah. Agar do’a dikabulkan oleh Allah SWT , ada syarat-syarat yang harus dipehuhi ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2] : 186).
Pada hakikatnya, sholat yang kita lakukan berisikan do’a-do’a. Surat Al Fatihah yang kita baca dalam setiap raka’at, pada ujungnya berisikan do’a agar kita ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus. Saat duduk di antara dua sujud, kita baca do’a sesuai tuntunan dalam hadis. Dalam Al Qur’an, banyak contoh-contoh do’a dari dari para Nabi dan orang-orang shaleh.
Dalam hadis Rasulullah SAW , dijelaskan berbagai hal tentang do’a, seperti adab berdo’a yang benar, bacaan do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ada juga penjelasan tentang waktu-waktu yang utama untuk berdo’a, seperti waktu antara adzan dan iqamat, saat sujud terakhir dalam sholat,  sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, saat turun hujan, atau ketika sedang menjalankan ibadah shaum. Ada juga tempat-tempat utama untuk berdo’a, di sekitar Ka’bah : Multazam, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail atau Raudhah di Masjid Nabawi.
Setiap aktivitas kita sehari-hari hendaknya di mulai dengan do’a. Mulai saat bangun tidur, masuk kamar mandi, makan-minum, bepergian ke luar rumah, naik kendaraan dan seabreg aktivitas lain. Dengan memulai do’a dalam setiap aktivitas, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah SWT dan yakin bahwa Dia akan selalu menyertai kita.
Perlu ditekankan, bahwa di samping berdo’a, harus dilakukan ikhtiar gigih tanpa kenal putus asa. Setelah itu kita bertawakal kepada Allah. Dia Yang Maha Mengetaui apa yang baik buat kita. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

F.     SAKIT ITU ANUGERAH ALLAH
            Sakit itu anugerah, Sakit itu penghapus dosa~Malaikat mendatangi manusia semasa sakit Janganlah kita merungut atau bersedih apabila ditimpa sakit kerana itu adalah ujian dalam ibadah. Salah satu bukti kasih sayang-NYA adalah, Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit. Berikut adalah penjelasannya;
“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu semasa sihat dan semasa waktu senangnya.” Ucapan Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.
Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda :"Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya."
Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lazatnya makanan dari mulutnya
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat lesi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lazat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah lalu berkata : "Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab : “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”
Lihatlah betapa sayangnya ALLAH terhadap kita. Renunglah kembali sejauh mana ketaatan kita mematuhi perintahNya?
            Untuk kita renungan kajian saya kali ini, silakan di baca
Suatu sore, seorang pria berdiri termenung didepan klinik. Dalam pikirannya masih terngiang ucapan seorang dokter beberapa saat itu. Sang dokter mengatakan, dalam tubuhnya terdapat bakteri yang dapat berkembang jika tidak diobati. Ia perlu disembuhkan dalam waktu cukup lama.
Itu pun, kata dokter, bila ia rajin minum obat dan bergaya hidup sehat. Jika tidak bakteri itu akan bersemanyam dan berkembang dalam tubuhnya. Ia merasa lelah, kalah, dan tak bersemangat. Ia telah jatuh sakit untuk kedua kalinya. Seketika itu pula, ia seperti kehilangan langkah. Ia telah ceroboh dan tidak bertanggung jawab pada tubuhnya. Ia menyesal tapi itu tak berarti.
Hingga suatu hari, ia bertemu dengan teman dan berkata,''Kamu harus berterima kasih pada penyakit. Sebab, kamu bisa hidup lebih bermakna lagi.'' Kontan aja pernyataan itu ia bantah. Bagaimana mungkin, pikirnya, sebuah penyakit bisa memberi makna lebih bagi dirinya, justru denga penyakit itu banyak kerugian ia peroleh. Ia tak leluasa bergerak, perlu kontrol ke dokter secara rutin dan membeli obat hingga ratusan ribu rupiah yiap bulannya.
Sang teman kemudian mengutip sebuah ayat al-Qur'an surat al-Baqarah: 286,''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya'' Yang artinya ''setiap cobaan tentu akan disesuaikan dengan batas kemampuan hamba-Nya. Sebab, Allah memiliki kasih sayang yang tak terbatas kepada semua hamba-Nya.
Lantas kata temannya lagi, ''kenapa kamu harus merasa terjatuh dan terkalahkan oleh penyakit? Justru banyak manfaat dan hikmah yang bisa kamu peroleh dari penyakit.''
Sebenarnya masih banyak lagi kisah kenikmatan di balik sakit. Bila di beberkan satu persatu mungkin nikmat itu akan sulit dihitung, Untuk itu marilah kita rubah hidup kita dengan: menghargai waktu dan kita gunakan sebaik2nya karena waktu tidak akan kembali, makan yang teratur gak harus makanan yang enak, yang terpenting mengandung vitamin2 yang dibutuhkan dalam tubuh kita, tidak begadang, bisa mengontrol emosi, positif thinking.
Kita mesti ingat kata Allah,''manusia tidak akan sanggup menghitung kenikmatan yang diberikan-Nya(QS- Ibrahim: 34)





Soal !
1)      Apa yang dimaksud "Kebersihan pangkal dari Kesehatan"?
2)      Apa yang dimaksud "Kebersihan sebagian dari Iman"?
3)      Jelaskan perbedaan suci dari hadats dan suci dari najis?
4)      Jelaskan pengertian Kesehatan dalam pandangan Islam?
5)      Sebutkan dalil yang mengemukakan Kebersihan adalah salah saatu unsur perilaku beradab?
6)      Apa fungsi dan tujuan menjaga kebersihan dan kesehatan?
7)      Jelaskan yang dimaksud shihhah dan 'afiah?
8)      Jelaskan hubungan antara do'a , ikhtian , tawakal?
9)      Jelaskan tugas-tugas malaikat yang dikirim Allah SWT saat seorang muslim sakit?
10)  Bagaimana pendapat anda tentang Sakit yang diberkan oleh Allah SWT?



| LG |

1 komentar:

  1. If you're looking to lose fat then you absolutely need to start using this totally brand new tailor-made keto meal plan diet.

    To produce this keto diet, licensed nutritionists, personal trainers, and professional cooks have joined together to develop keto meal plans that are efficient, painless, price-efficient, and enjoyable.

    From their launch in early 2019, 1000's of people have already remodeled their body and health with the benefits a good keto meal plan diet can provide.

    Speaking of benefits: clicking this link, you'll discover 8 scientifically-tested ones offered by the keto meal plan diet.

    BalasHapus