Social Icons

Featured Posts

Selasa, 19 Mei 2015

KEBERSIHAN DAN KESEHATAN


A.    KONSEPSI DAN KARAKTERISTIK
            Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya-nya, namun Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif1, harmonis, jelas dan logis antar sesame makhluk. Ajaran yang menjadi dasar dalam membangun relasa vertikal dank horizontal ini adalah kebersiahan. Bersih merupakan salah salah satu pokok dalam memelihara kelangsungan eksistensinya, sehingga tidak ada satupun makhluk kecuali berusaha untuk membersihkan dirinya.
Bersih adalah kondisi sesuatu yang bebas dari hal yang kotor. Jadi benda yang di katakan bersih apabila tidak ada kotoran berupa apa pun. Maka dari pengertian ini dapahi diketahui bahwa kondisi bersih berarti sesuatu hal yang harus dijaga dan dirawat dari hal-hal yang kotor yang dapat dihinggapi oleh kuman serta menjadi sarang penyakit.
Dalam membangun konsep kebersihan, Islam menetapkan berbagai macam peristilahan tentang kebersihan. Yaitu istilah thaharah, nazhafah, tazkiyah, dan fitrah. Thaharah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan badani sebagai syarat untuk melaksanakan ibadah. Nazhafa biasanya gunakan untuk menyebut lingkungan sekitar yang bersih. Tazkiyah digunakan untuk menyebut kebersihan sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan fitrah biasa digunakan untuk menyebut kebersihan holistik umat manusian berkenaan dengan keyakinan dan jiwa.
Semua term tersebut mengandung makna bersih zahir dan batin. Dalam ajaran Islam, bersih zahir tidak cukup tetapi dalamnya pun harus suci. Karenanya sesuatu yang tampa luarnya bersih masih harus juga disucikan betinnya. Contoh, orang yang hendak melaksanakan shalat tidak cukup hanya bersih, tetapi juga harus suci. Sunci zahir saja tidak cukup tetapi juga harus suci dari najis yang sifatnya batin, yaitu suci dari hadats kecil dan hadats besar. Bahkan seorang hanmba yang hendak menyempurnakan beribadah kepada Allah harus bersih dari perbuatan dosa, maka ia harus bertaubat, beristighfar dan berbuat baik. Karenanya, makna bersih amat holistik yang menyangkut berbagai persoalan kehidupan, baik dunia dan akhirat
Kebersihan dalam pandangan Islam sangat erat hubungannya dengan kesehatan. Karenanya tujuan Islam mengajarkan hidup yang bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani, rohani, dan sosial sehingga mampu menjadi umat pilihan dan khalifah Allah untuk memakmurkan bumi. “Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia”. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya kesehatan untuk menjalankan agama secara sempurna.

A. Ajaran Bersih
Allah SWT memerintah hambanya untuk melaksanakan ibadah dengan ketentuan bersuci. Ini menunjukkan bahwa keduanya tak dapat dipisahkan dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Antara ibadah dan suci terdapat hubungan yang erat dan timbal balik, di mana kesucian dianggap sebagai ibadah, dan ibadah itu sendiri dianggap tidak sah atau sempurna tanpa melalui kebersihan suci.
Al-Quran menjadikan kebersihan dan kebersihan sebagai sarana untuk menentukan kualitas ibadah. Karenanya, kebersihan selalu dijadikan sebagai syarat dari suatu ibadah baik kesucian lahiriyah maupun batiniyah. Kesucian lahiriyah berorientasi kepada sah dan tidak sahnya suatu ibadah, sedangkan kebersihan bathiniyah lebih terfokus kepada kesempurnaan suatu ibadah yaitu diterima atau tidak diterima. Kaitan yang erat ini seharusnya dapat dijadikan budaya dalam kehidupan karena pelaksanaan ibadah rutin dilaksanakan setiap hari.
Suatu contoh keterkaitan antara pelaksanaan ibadah dengan kesucian adalah rukun Islam berupa shalat, zakat, puasa dan haji. Hal yang paling menarik dari ibadah-ibadah ini ialah adanya penentuan syarat-syarat suci sebelum pelaksanaan ibadah dan tujuan suci yang hendak diraih. Syarat-syarat ini pada umumnya mengarah kepada sifat bersih baik lahir maupun batin.
Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata mengandung makna yang banyak aspek, seperti aspek kebendaan, aspek harta dan aspek jiwa. Thaharah (suci) bermakna bersih dari kotoran yang najis. Maka tidak heran jika kitab-kitab fikih Islam menempatkan bab thaharan diawal, sebelum membahas shalat. Dalam kitab suci Al-qur’an banyak ayat yang menganjurkan unntuk bersuci. Alalh berfirman :

فَطَهِّروَثِيَابَكَ
“Dan pakaianmu bersikanlah” (QS.Al Muddatsir ayat: 4)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang bertaubat dan orang – orang
yang mermbersikan diri”. ( QS. Al baqarah:222 ).

Ada dua makna dalam mengarti suci, yaitu suci dari hadats dan suci dari najis. Hadats dan najis merupakan sesuatu yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti shalat. Hadats berbeda dengan najis karena hadats berarti keadaan dan bukan suatu benda atau zat tertentu, sedangkan najis berarti benda atau zat tertentu dan bukan suatu keadaan.
Hadats adalah suatu keadaan tidak suci yang tidak dapat dilihat, tetapi wajib disucikan untuk sahnya ibadah: Hadas dibagi dua. a. Hadas kecil. Penyebabnya antara lain keluar sesuatu dari dubur atau qubul, menyentuh lawan jenis yang bukan muhrimnya dan tidur nyeyak dalam keadan tidak duduk tetap. Cara mensucikan hadats ini ialah berwudhu. b. Hadas besar/Jenaba. Penyebanya antara lain : keluar air mani, bersetubuh, wanita melahirkan dan haidh. Cara mensucikan hadas besar ini adalah mandi yang harus dibasahi seluruh tubuhnya.
Najis adalah suatu benda kotor menurut syara' (hukum agama). Benda - benda najis meliputi : Darah, Anjing, babi nanah, bangkai selain bangkai manusia, ikan laut, dan belalang, Segala sesuatu yang keluar dari dubur dan qubul, minuman keras yang memabukkan. Najis dibagi menjadi tiga yaitu : a. Najis mukhaffafah (ringan). yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum berumurdua tahun, dan belum makan sesuatu kecuali air susu ibunya (ASI). Cara menghilangkannya cukup diperciki air pada tempat yang terkena najis tersebut.
b. Najis mutawashitha (sedang). Yaitu segala sesuatu yang keluar dari dubur/qubul manusia atau binatang, barang cair yang memabukkan, dan bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan laut dan belalang), tulang dan bulu dari hewan yang haram dimakan. Najis mutawassithah dibagi dua yaitu : Najis 'ainiyah, yaitu najis yang berwujud (tampak dan dapat dilihat), misalnya kotoran manusia atau binatang. Yang dan kedua najis hukmiyah yaitu najis ,mutawassithah yang sudah diberishkan bahu, rupa dan rasanya, sehingga najis tersebut tidak berwujud (tidak tampak dan tidak terlihat). Cara membersihkan najis muthawassithah’ainiyah cukup dibasuh untuk menghilangkan sifat-sifat najis (yakni warna, rasa dan bau) nya hilang. Sedangan cara membersihkan najis hukmiyah sama dengan najis mukhaffafah, yaitu mengalirkan air suci.
c. Najis mughallazhah (Berat). Yaitu najis anjing dan babi. Cara menghilangkannya harus dibersihkan bau, warnan dan rasanya kemudian basuh sebanyak tujuh kali dan salah satu diantaranya dicampur dengan tanah (debu).
Selain tiga macam najis diatas, masih terdapat satu najis lagi yaitu : Ma'fu (Najis yang dima'afkan) antara lain nanah atau darah yang cuma sedikit, debu atau air dari lorong-lorong yang memercik dan sulit dihindarkan (‘umum al-bahwa). Adapun kotoran memiliki makna yang lebih umum dari najis, sebab meliputi pula sesuatu yang kotor namun tidak menghalangi seseorang melakukan ibadah, contohnya tanah, debu dan lain - lain.
Nazhafah berkonotasi kebersihan untuk memelihar anggota tubuh, rumah dan lingkungan. Nazhafah identik dengan kebersihan dan keindahan. Akan tetapi seringkali kata bersih atau nazhafah dimaknai untuk menyebut sesuatu yang terhindar dari najis dan kotoran. Islam sering menyebut kata bersih untuk fisik dan jiwa, baik secara tampak maupun tidak tampak. Rasulallah Saw bersabda dalam hadist, yang diriwayatkan oleh Ahmad, yang sanad nya Anas bin malik, menyebutkan.
عن ا نس بن ملك عن النبي صلي الله عليه و سلم قا ل : ان البزا ق في المسجد خطيئة وكفا ر تها د فنها
“Dari anas bin malik, dari nabi saw beliau bersabda : “ meludah di masjid itu suatu kesalahan dan dendanya adalah menguburnya“ ( HR. Ahmad ).

Rasulullah saw bersabda:
الإِسْلاَمُ نَظِيْفٌ فَتَنَظَّفُوْا فَإِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلاَّ النَّظِيْفَ
“Islam itu bersih maka peliharalah kebersihan karena sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (Al-Hadis)

إِنَّ اللهَ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ
• Sesungguhnya Allah itu bersih, Ia cinta kebersihan ( HR Turmudzi )
Agama itu di bangun diatas kebersihan ( HR. Al-Ghazali )

Tazkiyah atau zakat berkonotasi kesucian harta dan jiwa. Al-Quran mengungkapkan bahwa kata zakat seakar dengan tazkiyah. Ialah zakat mal untuk membersihkan harta bagi para muzakki sehingga harta yang dizakati adalah bersih dan yang tidak dizakati dinilai kotor, sedangkan zakat fitrah adalah untuk membersihkan fitrah para muzakki dari segala kotoran yang membelenggu.
Contoh keterkaitan bersih dari suci dengan ibadah adalah ibadah. Shalah adalah ibadah yang wajib dilaksanakan setiap hari pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam ibadah shalat diperintah untuk bersuci sebelum melakukanakannya. Para ulama memberikan rincian tentang bersih dari suci ini, mulai dari bersih diri, pakaian dan tempat pelaksanaan shalat. Perintah agar bersih dari suci sebelum melakukan shalat terdapat dalam Q.S. Al-Maidah ayat 6 yang populer disebut dengan wudhu’. Adapun anggota-anggota tubuh yang wajib untuk dibersihkan ialah membasuh muka, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap kepala, sunnah mengusap kedua daun telingan, wajib membasuh kedua kaki hingga mata kaki.
Kedudukan fiqh Islam dalam ibadah adalah mengatur tata cara pengabdian manusia kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Suci dan Maha Bersih, dan karenanya pengabdian ini tidak akan membuahkan hasil yang baik jika manusia tidak mensucikan dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Artinya, sifat-sifat Allah yang bersih dan suci hanya dapat diinternalisasi oleh orang-orang yang bersih dan suci. Bila kebersihan dikaitkan dengan ibadah sebagaimana disebutkan Al-Quran dalam kasus ibadah shalat, berarti menjaga kebersihan termasuk sesuatu yang diwajibkan, sama halnya dengan kewajiban shalat itu sendiri. Ini juga termasuk salah satu alasan para ulama ketika mengeluarkan kaidah fiqh: “mala yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib”. Artinya ‘apabila suatu kewajiban tidak sempurna tanpa melibatkan sarana yang lain, maka sarana yang lain itu juga hukumnya adalah wajib’.

B. Ajaran Sehat
Dalam kehidupan manusia pasti melewati tiga hal, yaitu sehat, sakit dan mati. Sehat dan sakit merupakan rona dan dinamika yang abadi selama manusia masih hidup di muka bumi. Ini yang harus disikapi dengan bijak dan adil bagi umat beragama. Sehat menurut batasan World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. WHO pada tahun 1984 menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual).
Islam sejak awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsii tentang kehidupan manusia yang pada gilirannya tentu saja dapat merubah perilakunya. perilaku yang diharapkan dari manusia yang bertauhid adalah perilaku yang merealisasikan ketaatan kepada perintah dan larangan Allah SWT.
Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena itu Rasulullah saw. menegaskan bahwa orang Islam yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang mukmin yang lemah seperti diungkapkan dalam hadis berikut:
المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلىَ اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang mukmin yang lemah”. (HR. Muslim)

Senada dengan hadis ini, ada pepatah Arab yang menyatakan:
العَقْلُ السَّلِيْمُ فِيْ الجِسْمِ السَّلِيْمِ
“Akal yang sehat terdapat dalam jiwa yang sehat”.

Mengingat pentingnya kesehatan sebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas, maka menjaga kesehatan merupakan perintah wajib bagi setiap muslim. Karena dalam kaidah hukum Islam “perintah terhadap sesuatu juga berarti perintah untuk melaksanakan perantaranya”. Artinya jika membangun badan/fisik yang sehat merupakan perintah wajib, maka melakukan perbuatan untuk menjaga kesehatan hukumnya wajib pula.
Secara filosofis, makna kesehatan menurut ajaran Islam adalah kesehatan dalam diri manusia yang meliputi sehat jasmani dan rohani atau lahir dan batin. Orang yang sehat secara jasmani dan rohani adalah orang berperilaku yang lebih mengarah pada tuntunan nilai-nilai ruhaniyah, sehingga melahirkan amal saleh. Ada empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan, ialahh lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan yang mencakup fisik, biologi, sosial, dan ekonomi mempunyai pengaruh paling besar terhadap kondisi kesehatan. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup
Ketika Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting, maka Islam juga memberikan petunjuk bagaimana hidup sehat. Di antara yang sangat ditekankan dalam Islam adalah faktor makanan. Islam menyuruh kaum muslim tidak memakan makanan kecuali makanan yang halal dan bergizi seperti dalam firman Allah SWT:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (bergizi) dari apa yang terdapat di bumi….”. (QS. Al-Baqarah: 168)

Makanan yang halal dan bergizi akan membuat tubuh kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Dengan tubuh yang sehat dan kuat ini maka kemungkinan tertular penyakit menjadi kecil. Orang yang mudah terserang penyakit adalah orang-orang yang tidak memiliki antibody yang kuat yang biasanya disebabkan kondisi fisik yang tidak sehat. Karena itu, kesehatan tubuh harus benar-benar diperhatikan dengan mengonsumsi makanan-makanan yang halal dan bergizi. Makanan yang halal dalam Islam adalah makanan-makanan yang terpilih tidak saja dari segi substansi makanannya tetapi juga dari segi asal makanan diperoleh. Konsep kesehatan dalam Islam tidak hanya mengutamakan kesehatan fisik tetapi juga psikis.
Sedangkan makanan yang bergizi adalah makanan-makanan yang lebih spesifik lagi dari sekian banyak makanan yang halal. Sehingga dengan kriteria makanan yang halal dan bergizi ini, makanan yang masuk ke dalam perut manusia benar-benar makanan yang terpilih. Islam menyadari betul bahwa perut adalah sumber munculnya berbagai macam penyakit, karena itu agar tubuh sehat, makanan yang akan masuk ke dalam perut harus disaring terlebih dahulu, baik aspek gizi maupun kehalalannya.

B.     URGENSI DAN FUNGSI
            Islam tidak membiarkan manusia di alam ini terbelenggu dalam persoalan yang tidak dapat dipecahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik”. (QS. Ali Imran: 179)

Landasan nilai tauhid mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup bersih dan sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya, sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang. Kewajiban membersihkan dari najis, hadats kecil, janabah, sunnah untuk bersiwak membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik dan jiwa. Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan (yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka. Kemudian, mencuci kemaluan dengan air setelah buang air kecil atau buang air besar. Adapun, ibadah puasa memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang bekerja, laksana mesin mendapatkan kesempatan untuk diistirahatkan
Dari hidup bersih menuju hidup sehat. Islam mengantisipasi sesuatu yang mengganggu kesehatan, yaitu penyakit. Penyakit dalam pandangan Islam merupakan sesuatu yang harus diberantas. Sebab, orang yang terjangkit penyakit pastilah mengganggu pelaksanaan ibadah secara sempurna dan menghambat produktifitas manusia. Islam mengajarkan pengobatan, tetapi Islam lebih menekan pada pencegahan terkena penyakit. Oleh karena itu, perlu umat Islam mempunyai perspektif bahwa membangun kesadaran hidup bersih, sehat dan mengobati penyakit adalah bagian dari dakwah Islam
Karena itu, salah satu tujuan dari ajaran Islam ialah menghilangkan kemadharatan/bahaya (daf’u al-dharar) yang menimpa manusia baik bahaya yang mengancam fisik maupun psikis. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai makhluk Allah SWT. -menyembah dan mengabdi kepada-Nya- di muka bumi ini dengan baik. Jika kondisi fisik atau psikis seseorang tidak sehat tentu ia tidak akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah kesehatan dan menganjurkan agar manusia menjaga kesehatan.
Di samping itu, untuk mencapai tubuh yang sehat, dalam pandangan Islam tidak cukup hanya mengandalkan faktor internal tubuh manusia saja, tetapi juga faktor lingkungan. Sebaik apapun makanan yang dikonsumsi manusia, jika lingkungannya tidak sehat atau tidak bersih, maka ancaman penyakit masih tetap besar. Karena penyakit bisa datang melalui makanan yang dikonsumsi dan bisa juga melalui udara dan hewan yang kotor. Maka dari itu, Islam juga sangat menekankan kebersihan.

C.    CAKUPAN DAN RUANG LINGKUP
            Ada 2 (dua) istilah yang digunakan Islam untuk menunjuk kepada kesehatan, yaitu istilah shihhah dan ’āfiah. Bahkan dalam banyak hadits ditemukan banyak do’a yang mengandung permohonan ’āfiah di samping shihhah. Apa perbedaan makna kedua kata ini? Secara gramatikal kata shihhah lebih bersifat fisik-biologis, sementara makna ’āfiah merupakan kesehatan yang bersifat mental-psikologis. Tangan yang sehat adalah mata yang dapat memandang atau melihat benda-benda empiris. Sedangkan mata yang ’āfiah adalah mata yang hanya melihat hal-hal yang mubah dan bermanfaat. Orang yang sehat adalah orang yang memiliki kondisi tubuh yang segar, normal, dan seluruh anggota badannya dapat bekerja dengan baik. Sedangkan orang yang ’ āfiah adalah orang yang memiliki ketenangan batin atau jiwa. Maknanya lebih berorientasi psikologis. Kesimpulan ini diperkuat oleh redaksi Al-Qur’an sendiri yang menyebut perintah makan sebanyak 27 kali dalam berbagai bentuk dan konteksnya dengan senantiasa menekankan salah satu dari dua sifat halal dan thayyib (baik dan bergizi). Bahkan terdapat 4 ayat yang menggabungkan keduanya.
Dengan demikian, maka kesehatan yang dimaksud Islam adalah kesehatan fisik-biologis sekaligus kesehatan mental-psikologis. Dalam perspekif Ilmu kesehatan, dikenal juga ada beberapa bentuk kesehatan. Di antaranya kesehatan fisiologis, psikologis, dan sosial/ masyarakat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) merumuskan kesehatan sebagai ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah SWT yang wajib disyukuri dengan cara mengamalkan, memelihara, dan mengembangkannya. Ada banyak dalil yang mengilustrasikan sekaligus menegaskan tentang kebutuhan manusia kepada ketiga bentuk kesehatan di atas. Berkaitan dengan kesehatan fisik Allah SWT berfirman:
…إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
”…Allah senang kepada orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri.” (QS al-Baqarah, 2: 222)
Kata taubat dalam ayat di atas dapat melahirkan kesehatan mental. Sedangkan kata kebersihan mendatangkan kesehatan fisik.
Dalam beberapa hadits juga kita temui penjelasan Rasulullah s.a.w. tentang kesehatan fisik, antara lain adalah sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash dia berkata bahwa Rasulullah saw telah bertanya (kepadaku): “Benarkah kamu selalu berpuasa di siang hari dan dan selalu berjaga di malam hari?” Aku pun menjawab: “ya (benar) ya Rasulullah.”Rasulullah saw pun lalu bersabda: “Jangan kau lakukan semua itu. Berpuasalah dan berbukalah kamu, berjagalah dan tidurlah kamu, sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu, matamu mempunyai hak atas dirimu, dan isterimu pun mempunyai hak atas dirimu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash).
Rasulullah s.a.w. juga pernah memberi nasihat:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا.
”Apabila kalian mendengar adanya wabah penyakit di suatu daerah, janganlah mengunjungi daerah itu, akan tetapi apabila kalian berada di daerah tersebut, janganlah meninggalkannya.” (HR al-Bukhari dari Usamah bin Yazid)
Berkaitan dengan kesehatan mental-psikologis Allah SWT menjelaskan:
يَوْمَ لا يَنفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (٨٨) إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (٨٩)
”Pada hari harta dan anak-anak tidak berguna, (tetapi yang berguna tiada lain) kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat.” (QS asy-Syu’arâ’, 26: 88-89)
Dalam sebuah hadits Rasulullah s.a.w. mengisyaratkan dengan jelas masalah pentingnya memperhatikan kesehatan mental, termasuk tindakan orang tua yang dapat memengarui kepribadian dan perkembangan mental anaknya. Dalam sebuah hadits diungkapkan ada seorang anak yang sedang digendong, kemudian pipis sehingga membasahi pakaian Nabi. Ibunya merenggut bayi tersebut dengan kasar sembari memaksa si bayi untuk menghentikan pipisnya. Dalam kondisi ini, Nabi menegur si ibu dengan mengatakan: ”Jangan hentikan pipisnya, jangan renggut ia dengan kasar. Sesungguhnya pakaian ini dapat dibersihkan dengan air, tapi apa yang dapat menjernihkan (mengobati) luka hati sang anak (yang engkau renggut dengan kasar).”
Sebagaimana dilaporkan banyak ahli, bahwa sebagian gangguan kejiwaan yang diderita orang dewasa, dapat ditelusuri penyebabnya pada perlakuan yang diterimanya di waktu kecil. Karena itu, Islam memerintahkan kepada orang-tua agar menciptakan suasana tenang dan memberikan kepada anak perlakuan yang baik dan lemah lembut. Karena perlakuan dan sikap orang tua sangat mempengaruhi kesehatan mental si anak, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan. Perspektif Islam tentang kesehatan psikologis meliputi banyak hal yang mungkin tidak tercakup dalam ranah ilmu kesehatan modern. Ia dapat berupa sikap angkuh, sombong, iri/dengki, dendam, loba, depresi, stress berat, cemas berlebihan, goncangan jiwa lainnya.
Paparan di atas memberikan pesan bahwa kesehatan baik fisik maupun psikologis merupakan kebutuhan dasar manusia, karena Islam memerintahkan untuk memelihara, dan meningkatkan kualitasnya. Karena kebersihan dan makanan/ minuman merupakan faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia, maka Islam memerintahkan ummatnya untuk memperhatikan kebersihan dan mengkonsumsi makanan yang halal dan bergizi. Makanan halal melahirkan kesehatan ruhani pemakannya, sementara makanan bergizi membangun kesehatan jasmani mereka.







D.    TEKNIK DAN METODE
Sunnah Nabi Menjaga Kebersihan Diri
Sajadah Muslim ~ Kita mengetahui bahwa kebersihan merupakan salah satu unsur penting prilaku  beradab, dan Islam menganggap kebersihan bukan hanya sebagai ibadah, tapi juga adalah suatu sistem peradaban. Baik dalam al-Qur’an maupaun dalam hadits pernah menyinggungnya antara lain
Pertama, .Allah menyukai kebersihan, ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang     yang mensucikan diri” (QS Al-Baqarah ayat 222). Oleh karena itulah kebersihan dianggap sebagai salah satu bukti keimanan, sementara sebuah hadits shahih berbunyi “Al-thuhur syathr al-iman (kebersihan itu adalah sebagain dari iman” (HR.Muslim, Ahmad dan Tirmidz). Kebersihan yang dimaksud adalah maknawi yaitu kebersihan dari syirik, munafik dan akhlak yang tidak baik, juga kebersihan bermakna indrawi yaitu kebersihan perorangan dan kebersihan umum.
sunnah-nabi-menjaga-kebersihan
Kedua, Kebersihan adalah cara menuju kesehatan dan kekuatan, Kesehatan jasmani adalah bekal individu dan kekayaan yang tak terhingga bagi setiap muslim, kebersihan  menjadi syarat keindahan dan penampilan yang baik  dan yang dicintai oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt telah berfirman, ”Hai anak Adam Pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki Masjid.” (QS.Al-Araf ayat 31).
Karena itu Rasulullah melarang seseorang pergi ke masjid dengan memakai baju yang kumuh, sebab selain kebersihan dan penampilan yang lebih baik adalah salah satu penyebab eratnya hubungan seseorang dengan orang lain. Manusia secara fitra tidak menyukai barang yang kotor dan tidak suka melihat orang yang tidak bersih. Inilah sebabnya Rasulullah mendorong setiap  umat muslim untuk mandi sebelum ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Rasulullah saw telah memberikan perhatian terhadap masalah kebersihan badan, beliau menganjurkan cara hidup bersih dengan mandi. Rasulullah juga memberi perhatian khusus terhadap kebersihan mulut dan gigi dengan bersiwak serta perintah untuk membersihkan  rambut serta bau badan.
Demikian juga perhatian Rasulullah saw terhadap kebersihan rumah, halaman dan teras rumah, ”Sesungguhnya Allah swt itu indah, Dia menyukai keindahan, Allah itu baik, Dia menyukai kebaikkan, Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Karena itu  bersihkanlah teras rumah kalian janganlah kalian seperti orang-orang Yahudi.”(HR. Tirmidz).
Begitu juga perhatian Rasulullah pada lingkungan sekitarnya, kebersihan jalan, misalnya, beliau memberikan ancaman kepada siapa saja yang membuang sesuatu yang membahayakan dan membuang kotoran di tempat tersebut. “Barang siapa yang mengganggu orang-orang Islam di jalan tempat mereka lewat, dia pasti mendapat laknat mereka.” (HR.Tabran).
Diantara perbuatan-perbuatan itu adalah kencing didalam air, khususnya dalam air keruh, di tempat untuk mandi, serta tempat air  yang mengalir.Ketiganya perbuatan bisa mendapat laknat dari Allah swt, malaikat, dan laknat orang-orang yang shaleh.
Sunnah Nabi Dalam Berpakaian
Begitu juga dengan mandi air keruh, Rasulullah melarang kita untuk melakukannya, sebab air keruh itu adalah sumber kotoran, yakni air yang tidak mengalir dan tidak berganti dengan yang baru. Sabda Rasulullah saw, ”Janganlah  salah seorang dari kalian mandi di air yang diam, sementara ia dalam keadaan baik.” (HR.Muslim).
Contoh lainnya adalah larangan memasukkan tangan ke dalam bejana air setelah bangun dari tidur. Hal ini dikhawatirkan  tangan tersebur  sebelumnya telah menyentuh dubur atau yang lainnya ketika tidur. ”Apabila salah seorang dari kalian yang bangkit  dari tidur, janganlah menenggelamkan tangannya ke dalam tempat air sehingga ia membasuhnya tiga kali. Karena ia tidak tahu kemana tangannya  semalam.” (HR.Muslim).
Sunnah juga mensyaratkan supaya kita bersikap hati-hati terhadap sesuatu yang dapat mendatangkan penyakit atau bahaya bagi jiwa dan badan kita, hal ini merupakan perintah Rasulullah saw. ”Tutuplah mangkuk tempat makanan (apabila di dalamnya terdapat makanan atau minuman) dan tutuplah bibir timba, tutuplah pintu, matikan lampu (pada waktu malam sebelum tidur), karena setan  tidak akan  dapat membuka timba dan tidak akan membuka mangkuk tempat makanan.” (HR Muslim, ibnu majah dan Ahmad).
Kita mengetahui bahwa dalam  masalah kebersihan, Islam memiliki aturan yang tidak ditandingi oleh agama manapun. Islam memandang kebersihan sebagai ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt, Bahkan  kebersihan itu bisa masuk kategori  salah satu kewajiban bagi setiap umat muslim. Hendaknya, firman Allah dan sabda-sabda Rasulullah di atas tidak dijadikan sebagai jargon semata, tapi harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh rasa kesadaran.



E.     DOA, IKHTIAR, DAN TAWAKAL
            Allah SWT memerintahkan kita untuk berdo’a kepada-Nya. ” Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina" (QS Al Mu’min [40] : 60).
Do’a adalah salah satu sarana untuk pendekatan kepada Allah SWT yang biasa disebut taqarrub ilallah. Agar do’a dikabulkan oleh Allah SWT , ada syarat-syarat yang harus dipehuhi ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah [2] : 186).
Pada hakikatnya, sholat yang kita lakukan berisikan do’a-do’a. Surat Al Fatihah yang kita baca dalam setiap raka’at, pada ujungnya berisikan do’a agar kita ditunjuki-Nya ke jalan yang lurus. Saat duduk di antara dua sujud, kita baca do’a sesuai tuntunan dalam hadis. Dalam Al Qur’an, banyak contoh-contoh do’a dari dari para Nabi dan orang-orang shaleh.
Dalam hadis Rasulullah SAW , dijelaskan berbagai hal tentang do’a, seperti adab berdo’a yang benar, bacaan do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ada juga penjelasan tentang waktu-waktu yang utama untuk berdo’a, seperti waktu antara adzan dan iqamat, saat sujud terakhir dalam sholat,  sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, saat turun hujan, atau ketika sedang menjalankan ibadah shaum. Ada juga tempat-tempat utama untuk berdo’a, di sekitar Ka’bah : Multazam, Maqam Ibrahim, Hijr Ismail atau Raudhah di Masjid Nabawi.
Setiap aktivitas kita sehari-hari hendaknya di mulai dengan do’a. Mulai saat bangun tidur, masuk kamar mandi, makan-minum, bepergian ke luar rumah, naik kendaraan dan seabreg aktivitas lain. Dengan memulai do’a dalam setiap aktivitas, kita akan merasakan kedekatan dengan Allah SWT dan yakin bahwa Dia akan selalu menyertai kita.
Perlu ditekankan, bahwa di samping berdo’a, harus dilakukan ikhtiar gigih tanpa kenal putus asa. Setelah itu kita bertawakal kepada Allah. Dia Yang Maha Mengetaui apa yang baik buat kita. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).

F.     SAKIT ITU ANUGERAH ALLAH
            Sakit itu anugerah, Sakit itu penghapus dosa~Malaikat mendatangi manusia semasa sakit Janganlah kita merungut atau bersedih apabila ditimpa sakit kerana itu adalah ujian dalam ibadah. Salah satu bukti kasih sayang-NYA adalah, Allah mengutus 4 malaikat untuk selalu menjaga kita dalam sakit. Berikut adalah penjelasannya;
“Apabila seorang hamba yang beriman menderita sakit, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menulis perbuatan yang terbaik yang dikerjakan hamba mukmin itu semasa sihat dan semasa waktu senangnya.” Ucapan Rasulullah SAW tersebut diriwayatkan oleh Abu Imamah al Bahili.
Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda :"Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya."
Allah memerintahkan :
1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lazatnya makanan dari mulutnya
3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat lesi.
4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.
Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lazat, dan cahaya di wajah sang hamba.
Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah lalu berkata : "Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab : “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.”
Lihatlah betapa sayangnya ALLAH terhadap kita. Renunglah kembali sejauh mana ketaatan kita mematuhi perintahNya?
            Untuk kita renungan kajian saya kali ini, silakan di baca
Suatu sore, seorang pria berdiri termenung didepan klinik. Dalam pikirannya masih terngiang ucapan seorang dokter beberapa saat itu. Sang dokter mengatakan, dalam tubuhnya terdapat bakteri yang dapat berkembang jika tidak diobati. Ia perlu disembuhkan dalam waktu cukup lama.
Itu pun, kata dokter, bila ia rajin minum obat dan bergaya hidup sehat. Jika tidak bakteri itu akan bersemanyam dan berkembang dalam tubuhnya. Ia merasa lelah, kalah, dan tak bersemangat. Ia telah jatuh sakit untuk kedua kalinya. Seketika itu pula, ia seperti kehilangan langkah. Ia telah ceroboh dan tidak bertanggung jawab pada tubuhnya. Ia menyesal tapi itu tak berarti.
Hingga suatu hari, ia bertemu dengan teman dan berkata,''Kamu harus berterima kasih pada penyakit. Sebab, kamu bisa hidup lebih bermakna lagi.'' Kontan aja pernyataan itu ia bantah. Bagaimana mungkin, pikirnya, sebuah penyakit bisa memberi makna lebih bagi dirinya, justru denga penyakit itu banyak kerugian ia peroleh. Ia tak leluasa bergerak, perlu kontrol ke dokter secara rutin dan membeli obat hingga ratusan ribu rupiah yiap bulannya.
Sang teman kemudian mengutip sebuah ayat al-Qur'an surat al-Baqarah: 286,''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya'' Yang artinya ''setiap cobaan tentu akan disesuaikan dengan batas kemampuan hamba-Nya. Sebab, Allah memiliki kasih sayang yang tak terbatas kepada semua hamba-Nya.
Lantas kata temannya lagi, ''kenapa kamu harus merasa terjatuh dan terkalahkan oleh penyakit? Justru banyak manfaat dan hikmah yang bisa kamu peroleh dari penyakit.''
Sebenarnya masih banyak lagi kisah kenikmatan di balik sakit. Bila di beberkan satu persatu mungkin nikmat itu akan sulit dihitung, Untuk itu marilah kita rubah hidup kita dengan: menghargai waktu dan kita gunakan sebaik2nya karena waktu tidak akan kembali, makan yang teratur gak harus makanan yang enak, yang terpenting mengandung vitamin2 yang dibutuhkan dalam tubuh kita, tidak begadang, bisa mengontrol emosi, positif thinking.
Kita mesti ingat kata Allah,''manusia tidak akan sanggup menghitung kenikmatan yang diberikan-Nya(QS- Ibrahim: 34)





Soal !
1)      Apa yang dimaksud "Kebersihan pangkal dari Kesehatan"?
2)      Apa yang dimaksud "Kebersihan sebagian dari Iman"?
3)      Jelaskan perbedaan suci dari hadats dan suci dari najis?
4)      Jelaskan pengertian Kesehatan dalam pandangan Islam?
5)      Sebutkan dalil yang mengemukakan Kebersihan adalah salah saatu unsur perilaku beradab?
6)      Apa fungsi dan tujuan menjaga kebersihan dan kesehatan?
7)      Jelaskan yang dimaksud shihhah dan 'afiah?
8)      Jelaskan hubungan antara do'a , ikhtian , tawakal?
9)      Jelaskan tugas-tugas malaikat yang dikirim Allah SWT saat seorang muslim sakit?
10)  Bagaimana pendapat anda tentang Sakit yang diberkan oleh Allah SWT?


Read More..

PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI


A.    KONSEPSI DAN URGENSI
            Islam menempatkan bekerja sebagai ibadah untuk mencari rezeki dari Allah guna menutupi kebutuhan hidupnya. Bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halalan thayiban termasuk kedalam jihad di jalan Allah yang nilainya sejajar dengan melaksanakan rukun Islam. Dengan demikian bekerja adalah ibadah dan menjadi kebutuhan setiap umat manusia. Bekerja yang baik adalah wajib sifatnya dalam Islam.
Rasulullah, para nabi dan para sahabat adalah para profesional yang memiliki keahlian dan pekerja keras. Mereka selalu menganjurkan dan menteladani orang lain untuk mengerjakan hal yang sama. Profesi nabi Idris adalah tukang jahit dan nabi Daud adalah tukang besi pembuat senjata. Jika kita ingin mencontoh mereka maka yakinkan diri kita juga telah mempunyai profesi dan semangat bekerja keras.
Profesi yang dikembangkan di lingkungan kita seperti profesi dosen, profesi verifikator keuangan, profesi ahli hukum, profesi laboran, profesi administratur, profesi supir, dan lainnya merupakan profesi yang harus kita kerjakan untuk kemaslahatan masyakat banyak. Satu langkah setelah meyakini memiliki profesi maka wajib hukumnya kita untuk bekerja keras. InsyaAllah kita akan dilimpahkan rezeki yang halal sekaligus pahala atas ibadah pekerjaan yang kita lakukan.
Melengkapi bekerja keras dan profesional adalah praktek bersikap dan berperilaku mencontoh Rasulullah yaitu bersifat siddiq, fathonah, amanah dan tabligh agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Sifat siddiq adalah dapat dipercaya dan jujur. Sifat fathonah adalah harus pintar. Sifat amanah adalah melaksanakan tugas yang dibebankan dan tabligh adalah mampu melakukan komunikasi yang baik.
Wujud dari kita bekerja selain mendapat rezeki halal adalah pengakuan dari lingkungan atas prestasi kerja kita. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil dan siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarga maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza Wajalla (H.R. Ahmad).
Allah juga telah menjanjikan kita mempunyai peluang memperoleh rezeki yang luas asalkan bekerja profesional dan cerdas melalui etos kerja yang tinggi. Islam telah mengajarkan bagaimana mempraktekan etos kerja yang tinggi. Ada 4 (empat) prinsip etos kerja tinggi yang diajarkan Rasulullah seperti diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam “syu’bul Iman”.
Pertama, bekerja secara halal. Syukur Alhamdulillah kita telah memiliki pekerjaan di Unpad yang terkategorikan halal yaitu melaksanakan layanan pendidikan untuk masyarakat. Kedua, kita bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain apalagi menjadi benalu bagi orang lain. Makna terdalam adalah kita dilarang untuk bersifat selalu meminta imbalan diluar kemampuan lembaga tempat kita bekerja. Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tegasnya seseorang harus mengatur rezeki yang diperoleh hasil dari memerah keringat untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dengan menghindarkan perilaku boros. Keempat, bekerja untuk meringankan hidup tetangga. Artinya kita setelah memperoleh rezeki tidak boleh egois dan harus peduli untuk meringankan kesulitan ekonomi tetangga kita.
Bekerja secara cerdas juga memerlukan tambahan energi yang datang dari ridha Allah melalui doa untuk para kerabat kerja dan untuk lembaga Unpad sendiri. Tahukah kita akan sosok Fatimah puteri Rasulullah yang selalu rela untuk mementingkan mendoakan orang lain dibandingkan diri dan keluaganya sendiri. Apakah kita pernah mendoakan pemimpin, kerabat kerja dan kemajuan Unpad? Doa yang dilakukan dan jika malaikat mendengar maka merekapun akan mendoakan kita yang mendoakan orang lain tersebut, seperti diriwayatkan oleh HR. Muslim dan Abu Dawud, “Apabila salah seorang mendoakan saudaranya sesama muslim tanpa diketahui oleh orang yang didoakan tersebut maka para malaikat berkata ‘Amin, semoga engkau memperoleh sebagaimana yang engkau doakan itu’.
Mengukir prestasi kerja, memperoleh rezeki yang berkah serta mendoakan kemajuan lembaga InsyaAllah menjadikan kehidupan kita akan lebih baik lagi. Kita seyogyanya menjadikan Unpad sebagai rumah tempat bekerja yang menyenangkan, “Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah kamu sebagai tempat ketenangan.” (an-Nahl: 80).
Akhir kata, kita atau minimal saya pribadi seyogyanya selalu mencoba konsisten bekerja keras, cerdas dan profesional sehingga arus rezeki menjadi lapang dan luas serta selalu berdoa Unpad semakin maju sehingga tambahan rezeki Unpad akan mengalir kepada kita semua. Aamiin.
            Cerdas atau berakal dalam Al Qur’an adalah ketika berpadunya pikir dengan dzikir dalam diri seorang muslim sejati. Pikir adalah kerja otak dan dzikir merupakan kerja hati, hati yang sehat dan hidup yakni selalu ingat kepada Allah SWT. Didalam Al Qur’an penyebutan kata berakal atau berfikir tersebar tidak kurang dalam 19 ayat, Seperti Firman Allah SWT dalam QS.Ar Ra’d ayat : 19 أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ ” Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” Ternyata orang-orang yang berakal bukanlah orang-orang yang hanya mengandalkan pikir otak saja. Bahkan orang-orang yang hanya mau menggunakan pikir saja tanpa menggunakan hati bisa disebut sebaliknya yakni  orang yang bodoh. Dan kedudukan manusia yang mengedepankan logika pikir saja ternyata hanya berselisih sedikit dengan seekor hewan ternak. أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا “atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”  QS. Al Furqan :44 Seseorang yang hatinya tidak hidup, akan sangat kesulitan dalam mengendalikan pikir. Faktanya adalah banyak sekali orang-orang yang pintar menggunakan otak tetapi tidak mau menggunakan hati. Yang terjadi adalah mereka selalu melogika apa yang dia lihat dan ucapkan.
•“Dimanakah Allah, bukankah bumi ini berputar dengan sendirinya, sebagai bagian dari hukum alam?”
•“Jangan berkhayal, apakah mungkin tulang-belulang (andai tersisa) dari seorang manusia bisa hidup kembali bahkan berkumpul di suatu padang keadilan?”
•“Lia eden itu sama dengan Nabi Muhammad lho, sebab ketika awal berdakwah mendapat tantangan dahsyat dari umat””
•“Porno atau tidak itu sangat relatif, sebab sangat tergantung dari apa yang terpikir dalam otak manusia nya masing-masing”
•“Kerudung (jilbab) itu bagian dari budaya, jadi bukanlah suatu keharusan..yang penting tetap sopan”
•“Kebohongan yang kita lakukan ini boleh dilakukan yang penting demi kemaslahatan orang banyak..”
•“Lebih baik bapak dan ibu kita pindahkan dipanti jompo saja, selain lebih terawat maka akan lebih senang karena berkumpul dengan orang-orang yang sama dan sebaya..”
Itulah beberapa ungkapan dan masih banyak sekali yang lain. Yang menunjukkan sebuah pola pikir pinter yang tidak padu dengan hati yang hidup sehingga menjadi keblinger. Realita di masyarakat yang terjadi adalah adanya manusia yang secara pikir ‘lebih pandai’ tetapi hatinya tidak hidup. Atau orang dengan kemampuan berpikir ‘kurang’ tetapi hatinya tetap hidup. Nah inilah yang lebih baik  dan selamat. Idealnya sih seseorang dikaruniai kecerdasan otak yang handal tetapi hatinya juga hidup, selalu ingat kepada Allah SWT, dan itulah yang paling baik. Tetapi akan menjadi sangat berbahaya, ketika manusia yang moncer dengan otaknya tetapi hatinya tidak tersentuh atau terbimbing nilai-nilai agama. Contoh yang terjadi adalah jika mereka menempati posisi lebih tinggi dalam masyarakat, akan menindas dan juga mengakali/minteri orang-orang yang bodoh dan lemah dalam kekuasaanya. Ini berbeda dengan orang yang secara kekuatan otak minim dan hatinyapun jauh dari Allah SWT. Efeknya bagi manusia lain tidak akan secelaka yang dilakukan orang yang pintar minus moral.

B.     LANDASAN DAN TUJUAN
            Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Al-Dzariyyat:56).
Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah dimuka bumi”. Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) dibumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah:30). Ayat diatas menegaskan bahwa manusia  adalah makhluk berketuhanan sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk berketuhanan, wajinb baginya mengabdi, tunduk dan patuh, serta berpegang teguh pada ajaran agama Allah yakni al-Islam. Sementara sebagai makhluk sosial yang merupakan bagian dari aktualisasi sebagai makhluk berketuhanan, mereka harus menjalin shilaturahmi dan  kerjasama yang baik, jujur, amanah, yang dilandasi oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Dari kondisi tersebut, manusia menjadi  berkembang secara dinamis, sehingga kebutuhan hidup manusia juga semakin berkembang, begitu juga tantangan hidupnya pun berkembang pesat. Sehingga ketergantungan manusia kepada sesamanya juga semakin tinggi. Dari sini kemudian, lahirlah lapangan pekerjaan, yang dengan lapangan pekerjaan seseorang dapat memenuhi kebutuhannya  sekaligus menolong pemenuhan kebutuhan orang lain.

Pengertian Profesionalisme
  Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional, dan profesional berarti melakukan sesuatu sebagai pekerjaan pokok, yang disebut profesi,  artinya pekerjaan tersebut bukan pengisi waktu  luang atau sebagai hobi belaka. Jika profesi diartikan sebagai pekerjaan da isme sebagai pandangan hidup, maka profesional dapat diartikan sebagai pandangan untuk selalu berfikir,  berpandirian, bersikap dan bekerja sungguh-sungguh, kerja keras, bekerja sepenuh waktu, disiplin, jujur, loyalitas tinggi dan penuh dedikasi demi keberhasila pekerjaannya.  Dengan pengertian tersebut, profesionalisme sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu perusahaan, organisasi dan lembaga. Perusahaan, organisasi dan sejenisnya tersebut kalau ingin berhasil program-program, maka harus melibatkan orang-orang yang mampu bekrja secara profesional. Tanpa sikap dan prilaku profesional maka lembaga, organisasi tersebut tidak akan memperoleh hasil yang maksimal, bahkan bisa mengalami kebangkrutan.  Dalam realitas masyarakat, banyak ditemukan adanya perusahaan, organisasi, dan lembaga yang maju, sedang atau biasa-biasa. Diantara faktor yang mempengaruhi kemajuan dan kemunduran perusahaan atau lembaga tersebut adalah sikap dan perilaku profesional dari orang-orang yang terlibat didalamnya, terutama para peminpinnya.
 Nilai-nilai Islam yang Mendasari Profesionalisme
  Ajaran Islam sebagai agama universal sangat kaya akan pesan-pesan yang mendidik bagi muslim untuk menjadi umat terbaik, menjadi khalifa, yang mengatur dengan baik bumi dan se isinya. Pesan-pesan sangat mendorong kepada setiap muslim untuk berbuat dan bekerja secara profesional, yakni bekerja dengan benar, optimal, jujur, disiplan dan tekun.  Akhlak Islam yang di ajarkan olehNabiyullah Muhammad SAW, memiliki sifat-sifat yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan profesionalisme. Ini dapat dilihat pada
pengertian sifat-sifat akhlak Nabi sebagai berikut :
1.  Sifat kejujuran (shiddiq).  Kejujuran ini menjadi salah satu dasar yang paling penting untuk membangun profesionalisme. Hampir semua bentuk uasha yang dikerjakan bersama menjadi hancur, karena hilangnya kejujuran. Oleh karena itu kejujuran menjadi sifat wajib bagi Rasulullah SAW. Dan sifat ini pula yang selalu di ajarkan oleh islam melalui al-Qur’an dan sunah Nabi. Kegiatan yang dikembangkan di dunia organisasi, perusahan dan lembaga modern saat ini sangat ditentukan oleh kejujuran. Begitu juga  tegaknya negara sangat ditentukan oleh sikap hidup jujur para pemimpinnya. Ketika para pemimpinya tidak jujur dan korup, maka negara itu menghadapi problem nasional yang sangat berat, dan sangat sulit untuk membangkitkan kembali.
2.  Sifat  tanggung jawab (amanah). Sikap bertanggung jawab juga merupakan sifat akhlak yang sangat diperlukan untuk membangun profesionalisme. Suatu perusahaan/organisasi/lembaga apapun pasti hancur bila orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak amanah.
3.  Sifat komunikatif (tabligh). Salah satu ciri profesional adalah sikap komunikatif dan transparan. Dengan sifat komunikatif, seorang penanggung jawab suatu pekerjaan akna dapat menjalin kerjasama dengan orang lain lebih lancar. Ia dapat juga meyakinkan rekanannya untuk melakukan kerja sama atau melaksanakan visi dan misi yang disampaikan. Sementara dengan sifat transparan, kepemimpinan di akses semua pihak, tidak ada kecurigaan, sehingga semua masyarakat anggotanya dan rekan kerjasamanya akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada kepemimpinanny. Dengan begitu, perjalanan sebuah organisasi akan berjalan lebih lanca, serta mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak.
4.   Sifat cerdas (fathanah). Dengan kecerdasannya seorang profesional akan dapat melihat peluang dan menangkap peluang dengan cepat dan tepat. Dalam sebuah organisasi, kepemimpina yang cerdas akan cepat dan tepat dalm memahami problematikayang ada di lembaganya. Ia  cepat memahami aspirasi anggotanya, sehingga setiap peluang dapat segera dimanfaatkan  secara optimal dan problem dapat dipecahkan dengan cepat dan tepat sasaran.

 Disamping itu, masih terdapat pula nilai-nilai islamyang dapat mendasari
pengembangan profesionalisme, yaitu :
1.  Bersikap positif dan berfikir positif (husnuzh zhan ).  Berpikir positif akan mendorong setiap orang melaksanakan tugas-tugasnya lebih baik. Hal ini disebabkan dengan bersikap dan berfikir positif mendorong  seseorang untuk berfikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. Husnuzh zhan tersebut, tidak saja ditujukan kepada sesama kawan dalam bekerja, tetapi yang paling utama adalah bersikap dan berfikir positif kepada Allah SWT. Dengan pemikiran tersebut, seseorang akan lebih lebih bersikap objektif dan optimistik. Apabila ia berhasil dalm usahanya tidak menjadi sombong dan lupa diri, dan apabila gagal tidak mudah putus asa, dan menyalahkan orang lain. Sukses dan gagl merupakan pelajaran yang harus diambil untuk menghadapi masa depan yang lebih baik, dengan selalu bertawakal kepada Allah SWT.
2.  Memperbanyak shilaturahhim. Dalam Islam kebiasaan shilaturrahim merupakan bagian dari tanda-tanda keimanan. Namun dalam dunia profesi, shilaturahhim sering dijumpai dalam bentuk tradisi lobi. Dalam tradisi ini akan terjadi saling belajar.
3.  Disiplin waktu dan menepati janji. Begitu pentingnya disiplin waktu, al-Qur’an
menegaskan makna waktu bagi kehidupan manusia dalam surat al-Ashr, yang diawali dengan sumpah ”Demi Waktu”. Begitu juga menepati  janji, al-Qur’an menegaskan hal tersebut dalam ayat  pertama al-Maidah, sebelum memasuki pesan-pesan penting lainnya. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Al-Maaidah/05:01). Yang dimaksud aqad-aqad adalah janji-janji sesama manusia.
4.  Bertindak efektif dan efisien.  Bertindak efektif artinya merencanakan , mengerjakan dan mengevaluasi sebuah kegitan dengan tepat sasaran. Sedangkan efisien adalah penggunaan fasilitas  kerja dengan cukup, tidak boros dan memenuhi sasaran, juga melakukan sesuatu yang memang diperlukan dan berguna. Islam sangat menganjurkan sikap efektif dan efesien.
5.  Memberikan upah secara tepat dan cepat. Ini sesuai dengan Hadist Nabi, yang mengatakan berikan upah kadarnya, akan mendorong seseorang pekerja atau pegawai dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya secara tepat pula. Sementara apabila upah ditunda, seorang  pegawai akan bermalas-malas karena dia harus memikirkan beban kebutuhannya dan merasa karya-karyanya tidak dihargai secara memadai.

C.    KARAKTERISTIK
            Pertama; Shidiq (kejujuran). Bersungguh-sungguh bekerja merupakan ciri khas profesionalisme, namun apalah artinya kesungguhan itu jika tidak dibarengi dengan sikap yang jujur.Kejujuran adalah modal sangat berharga bagi setiap manusia dalam menjalankan segenap aktifitas kehidupannya apapun profesinya. Alqur’an memuji orang-orang yang selalu berprilaku jujur, sebagaimana firman-Nya: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur (disebabkan) kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah karena Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Dan itulah keberuntungan yang paling besar” (QS Al-Maaidah: 119).
Kedua: Amanah (dapat dipercaya). Salah satu komitmen penting yang harus kita bangun dalam karir hidup kita, selain kejujuran, ialah membangun kepercayaan utamanya dari orang lain Nabi Muhammad saw berhasil menuai sukses, dalam sisi apapun, setelah beliau berhasil membangun kepercayaan orang lain sehingga mendapat julukan sebaga Al amin (yang terpercaya). Memang, komitmen dan kesuksesan hanya akan datang kalau kita memiliki kredibilitas dan kepercayaan.
Dalam pandangan Islam, profesionalisme tak dapat dipisahkan dari amanah, karena sifat inilah yang akan selalu membingkai profesionalitas pekerjaan kita tetap pada jalurnya yang benar. Orang yang tidak amanah berarti ia tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. Rasulullah saw menjelaskan, “Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancurannya”, sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana maksud menyia-nyiakan amanah itu?”, Nabi saw menjawab, “Yaitu menyerahkan suatu urusan ditangani oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR Bukhari).
Karena itu hendaknya kita dalam menjalankan tugas dan kewajiban harus dengan sungguh-sungguh, memperdalam ilmu tentang bidang pekerjaan tersebut dan melaksanakan sesuai apa yang telah ditentukan baik secara jam kerja,maupun tupoksi yang telah diberikan.
Ketiga; Tabligh (keterbukaan). Secara harfiah tabligh maknanya menyampaikan sesuatu apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Perilaku terbuka atau transparan penting dimiliki seorang profesional. Sulit membayangkan profesionalitas kinerja seseorang jika ia tidak menanamkan sifat ini dalam dirinya.
Transparansi sangat dekat hubungannya dengan kejujuran dan sifat amanah, bahkan ia merupakan refleksi dari kedua sifat di atas. Orang yang jujur dan amanah tentu tak akan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diungkap. Ia mampu mengungkap kebenaran sekalipun hal itu pahit, baik bagi dirinya maupun karirnya. (Qul al-Haqq walau kaana murran).
Keempat; Fathanah (cerdas dan bijaksana). Tak dapat dipungkiri, di dunia yang lebih mengedepankan aspek formalitas daripada moralitas, seperti saat ini, intelektualitas merupakan paramater pertama untuk mengukur kemampuan seseorang.
Fathanah bukan sekadar cerdas tetapi juga visioner dan inovatif, tanggap menangkap peluang untuk maju serta menciptakan sesuatu yang tepat guna, efisien dan berdaya saing tinggi. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin itu, (harus) cerdas dan cepat tanggap”.
Jelasnya, untuk menjadi profesional, seorang muslim hendaknya mempunyai empat karakter sebagaimana disebutkan di atas. Shidq (Kredibilitas), Amanah (memiliki kapabilitas), Tabligh (transparansi) dan Fathanah (intelektual), yang juga adalah sifat utama pribadi Rasulullah saw, merupakan kunci penting guna memenangkan persaingan pasar dunia global.
Selain nilai-nilai dasar tersebut, seorang profesional muslim hendaknya juga mempertahankan tujuan dasar. Di manapun dan apapun profesi kita tujuan intinya cuma satu, yakni dalam rangka mengabdikan diri kepada Allah swt. Sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak Aku menciptakan golongan jin dan manusia selain untuk mengabdi kepada-Ku” (QS adz-Dzariyat: 56).
Dengan demikian, jika kita berhasil mempertahankan dua hal di atas(nilai dasar dan tujuan dasar). Maka Allah Ta’ala pun berjanji akan memberikan dua hal, seperti disebutkan dalam ayat di surah an-Nuur di atas, yaitu; balasan yang terbaik dan tambahan karunia dari-Nya.
“(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS An-Nuur: 38).

D.    PANDANGAN ISLAM
Dari uraian di atas, dapat disipulkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan arti penting amal dan kerja. Islam mengajarkan bahwa kerja kerja harus dilaksanakan
berdasarkan prinsip sebagai berikut :
1. Bahwa pekerjaan itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan pengetahuan yang memadai. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
Dan janganlah  kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al-Isra/17:36). 2.  Pekerjaan harus dilakukan berdasarkan keahlia. Seperti sabda Nabi :  Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran. (Hadist Bukhari).
3.  berorientasi kepada mutu dan hasil yang baik. Dalm Islam, amal, dan kerja harus dilakukan dalam bentuk yang shalih. Sehingga makna amal shalih dapat dipahami sebagai kerja sesuai standar mutu, baik mutu dihadapan Allah maupun dihadapan manusia rekanan kerjanya.
4.  Pekerjaan itu senantiasa diawasi oleh Allah, Rasulullah, dan masyarakatnya, oleh karena itu harus dilaksanakan dengan penuh tanggunga jawab.
5.  Pekerjaan dilakukan dengan semangat dan etos kerja yang tinggi
6.  Pengupahan harus dilakukan secara tepat da sesuai dengan amal atau karya yang dihasilkannya.





E.     IMAN, ILMU, AMAL KUNCI PROFESIONAL DAN CERDAS ISLAMI
`           Mentrasformasikan ilmu itu menjadi amal perbuatan, baik  bagi diri guru sendiri maupun para siswa serta seluruh warga sekolah, sehingga nampak kepribadian Islam atau religius culture mewarnai dunia pendidikan atau sekolah.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang". Atas dasar amanat Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mahan Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
•         Iman dan amal shalih dalam al-Qur’an pada umumnya disandingkan. Artinya, iman seseorang tidak sempurna jika tidak disertai amal (kinerja) yang baik.
•         Iman dapat membuahkan kinerja yang baik, jika dilengkapi dengan ilmu yang memadai.
•         Bekerja dapat membuahkan produktivitas dan kreativitas yang bernilai jika dilandasi keyakinan bahwa Allah itu melihat kinerja kita.
•         Bekerja pada akhirnya harus dapat menambah dan meningkatkan: iman, ilmu, amal, dan rezeki yang halal dengan aktualisasi STAF tersebut.
•         Rasul Saw bersabda “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibn Asakir)








F.     SHIDIQ, AMANAH, TABLIGH, FATHONAH KUNCI PROFESIONALITAS CERDAS ISLAMI
1. Shidiq (Kejujuran)
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Kejujuran
الصِدْق
(Jujur, benar, bersahabat, tidak mendustakan, bersedekah)   
1.Bersikap obyektif
2.Berpikir positif
3.Bertutur kata apa adanya
4.Berbuat sesuai hati nurani
5.Bekerjasama demi kebaikan
6.Anti berdusta (berbohong)
7.Anti manipulasi
8.Anti inefisiensi

2. Amanah (Keterpercayaan
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Amanah          
1.Bersikap teguh pendirian dan hati-hati
2.Berpikir masa depan
3.Bertutur kata penuh kearifan
4.Bertindak penuh inisiatif dan tanggung jawab
5.Berlaku adil dan demokratis
6.Bersemangat dalam  penegakan disiplin
7.Menghargai dan memaknai waktu
8.Anti  penyalahgunaan wewenang/jabatan
9.Anti  pemborosan
10.Anti ketidakdisiplinan

3. Tabligh (Menyampaikan)     
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Tabligh
تبليغ
(sampai, menyampaikan, fasih, komunikatif terbuka)           
1.Bersikap Terbuka
2.Berpikir Logis
3.Berkomunikasi persuasif
4.Bertindak Transparan
5.Bersemangat dalam amar ma’ruf nahi munkar
6.Anti permufakatan dan kerjasama dalam rangka kejahatan
7.Anti ketertutupan 
8.Anti kolusi 

4. Fathanah (Kecerdasan)
Nilai Etika       Aktualisasi Nilai dalam Kerja
Fathanah        
1.Bersikap wajar dan simpatik
2.Berpikir rasional dan proporsional
3.Bertutur kata lembut dan sopan
4.Berkarya kreatif
5.Berjiwa sosial
6.Bersemangat dalam meraih prestasi dan produktivitas
7.Anti kebodohan
8.Anti kemunduran
9.Anti ketertinggalan
10.Anti kemiskinan (intelektual, struktural, kultural, sosial dan moral)

Aktualisasi Etos dan Etika Kerja
1. Berupaya menempatkan: Right man on the right place and in the right time = إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة artinya: “Jika suatu urusan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”.
2. Menjaga amanah (Terpercaya, akuntabel, trust) yang diberikan kepadanya. Nabi Saw. Bersabda:إذا ضيعت الأمانة إلى غير أهلها فانتظر الساعة artinya: “Apabila amanah  itu diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”
3. Kerja harus itqan (tekun, profesional, tuntas) =
  إن الله يحب أحدكم إذا عمل أن يتقنه (رواه البيهقي)
      Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai seseorang jika bekerja ia melakukannya dengan profesional.” (HR. al-Baihaqi)
4. Tidak melakukan eksploitasi, penzhaliman, perbudakan. Hak-hak diberikan sesuai dengan kewajiban yang dibebankan kepada SDM. Nabi bersabda: اعطوا الأجير أجره قبل أن يجف عرقه (Berikanlah upah/honornya sebelum kering keringatnya.”
5. Membina relasi sosial dengan baik dan beradab (Mu’amalah hasanah). Nabi Saw.  خالق أو عامل الناس بخلق حسن (Perlakukan/pergauli manusia dengan akhlak yang baik) (HR. Musl.im)
6. Optimalisasi pencapaian target (tujuan korporasi, institusi), pemanfaatan waktu, dan  disiplin kerja = اغتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك، وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك
7. Penerapan Self control, waskat, dan penuh tanggung jawab dalam bekerja= وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ... + إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا
8. Berorientasi terbaik (memilih yang terbaik, bekerja dan berprestasi terbaik). Allah berfirman: : هو الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسنكم عملا (Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya). Nabi bersabd: الناس معادن خياركم في الجاهلية خياركم في الإسلام  (Manusia itu ibarat tambang; yang terbaik di masa jahiliyah adalah juga yang terbaik pada masa Islam).
9. Meningkatkan kualitas diri, kapabilitas, dan keahlian dengan banyak belajar dan berlatih demi peningkatan kinerja yang lebih baik. Allah berfirman: إن أحسنتم أحسنتم لأنفسكم وإن أسأتم فلها (Jika kalian berbuat yang terbaik, maka pada hakikatnya kalian berbuat untuk diri kalian sendiri; sebaliknya jika berbuat jahat, maka akibatnya juga menimpa diri kalian sendiri.” (al-Isra’ [17]: 7)

Soal !
1)      Apa yang di maksud dengan Profesional?
2)      Apa yang dimaksud Cerdas dalam Al-Qur'an?
3)      Jelaskan hubungan antara profesional dan cerdas dengan etos kerja?
4)      Jelaskan sifat-sifat yang menjadi landasan dalam profesionalisme?
5)      Jelaskan nilai-nilai yang mendasari profesionalisme?
6)      Apa tujuan dasar anda dalam membentuk nilai-nilai dasar karakteristik?
7)      jelaskan pandangan islam tentang profesional dan cerdas islam?
8)      Apa hubungan iman , amal , dan ilmu dalam kunci profesional dan cerdas islami?
9)      Sebutkan UUD yang mengatur tentang iman , ilmu , amal dalam pendidikan?

10)  Sebutkan Aktualisasi Etos dan Etika kerja?
Read More..

ISLAM DAN IPTEKS


A.    ILMU, PENGETAHUAN, ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN SENI
            Menurut bahasa, arti kata ilmu berasal dari bahasa Arab (ilm), bahasa Latin (science) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Perbedaan ilmu dan pengetahuan yaitu : Secara umum, Pengertian Ilmu merupakan kumpulan proses kegiatan terhadap suatu kondisi dengan menggunakan berbagai cara, alat, prosedur dan metode ilmiah lainnya guna menghasilkan pengetahuan ilmiah yang analisis, objektif, empiris, sistematis dan verifikatif. Sedangkan pengetahuan (knowledge ) merupakan kumpulan fakta yang meliputi bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum bisa disebut sebagai ilmu, tetapi ilmu pasti merupakan pengetahuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pengertian Ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode ilmiah tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan kondisi tertentu dalam bidang pengetahuan. Sedangkan  dalam Wikipedia Indonesia, Pengertian Ilmu/ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menemukan, menyelidiki dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai bentuk kenyataan dalam alam manusia.
Pengertian Pengetahuan - Pengetahuan ialah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca  indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman,  rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Soekidjo, Notoadmodjo 2003).  (Pengertian Pengetahuan Menurut Para Ahli). Definisi Pengetahuan - Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran) (Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).
Tingkat Pengetahuan
Benjamin Bloom (1956), seorang ahli pendidikan, membuat klasifikasi (taxonomy) pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk merangsang proses berfikir pada manusia. Menurut Bloom kecakapan berfikir pada manusia dapat dibagi dalam 6 kategori yaitu :
    Pengetahuan (knowledge)
Mencakup ketrampilan mengingat kembali faktor-faktor yang pernah dipelajari.
    Pemahaman (comprehension)
Meliputi pemahaman terhadap informasi yang ada.
    Penerapan (application)
Mencakup ketrampilan menerapkan informasi atau pengetahuan yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru.
    Analisis (analysis)
Meliputi pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti dan mencoba memahami struktur informasi.
    Sintesis (synthesis)
Mencakup menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah ada untuk menggabungkan elemen-elemen menjadi suatu pola yang tidak ada sebelumnya.
    Evaluasi (evaluation)
Meliputi pengambilan keputusan atau menyimpulkan berdasarkan kriteria-kriteria  yang ada biasanya pertanyaan memakai kata: pertimbangkanlah, bagaimana kesimpulannya.
Pengukuran Pengetahuan
Menurut Soekidjo (2003) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau  angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.
Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Soekidjo (2005) cara untuk memperoleh pengetahuan ada 2 yaitu :
Cara Tradisional atau Non Ilmiah
a.  Cara coba salah (Trial and error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu seseorang apabila menghadapi persoalan atau masalah, upaya pemecahannya dilakukan dengan coba-coba saja. Bahkan sampai sekarang pun metode ini masih sering dipergunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b.  Cara kekuasaan atau otoritas
Para pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintahan, tokoh agama maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan pengetahuan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris ataupun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang ditemukannya adalah sudah benar.
c.  Berdasarkan pengalaman pribadi
Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
d.  Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara pikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mempu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya.
Cara Modern atau Cara Ilmiah
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah
Pengertian ilmu pengetahuan adalah
Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa, diwaktu kecil kita belajar membaca huruf abjad, lalu berlanjut menelaah kata-kata  dan seiring bertambahnya usia secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita terus belajar membaca, hanya saja yang dibaca sudah berkembang bukan hanya dalam bentuk bahasa tulis namun membaca alam semesta seisinya sebagai usaha dalam menemukan kebenaran. Dengan ilmu maka hidup menjadi mudah, karena ilmu juga merupakan alat untuk menjalani kehidupan.
Macam-macam pengertian ilmu
    Ilmu adalah panduan atau petunjuk yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia sebagai  bekal untuk menjadi khalifah dalam mengelola dunia, ibarat ketika kita membeli suatu barang elektronik maka dibekali buku panduan oleh produsenya untuk dipelajari sehingga dapat menemukan cara terbaik dalam menggunakan, merawat dan memperbaiki barang elektronik tersebut.  Ilmu adalah cahaya sebagai penerang langkah kehidupan serta bekal untuk mengenal Tuhan.  Ilmu merupakan alat untuk membedakan antara orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui. Tuhan akan meninggikan derajat orang-orang berilmu apabila mengamalkan ilmunya. Derajat orang berilmu yang bermanfaat itu lebih tinggi dari ahli ibadah.  Ilmu itu jauh lebih baik dari pada harta.
Sumber-sumber ilmu
    Kabar yang dapat dipercaya.
    Indera lahir maupun batin.
    Akal berupa nalar maupun intelektual
    Intuisi
Jenis-jenis ilmu
    Ilmu abadi yaitu pengetahuan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia dalam bentuk kitab suci alquran dan hadist yang disampaikan kepada manusia melalui perantara rasul sebagai utusan Tuhan, ilmu jenis ini merupakan suatu bentuk yang sudah pasti benar dan tidak berubah serta dapat dibuktikan dalam situasi,kondisi dan zaman apapun.
    Ilmu yang dicari yaitu pengetahuan yang didapat oleh manusia sebagai hasil dari usaha mencari suatau definisi alam semesta, ilmu jenis ini dapat berubah entah itu bertambah maupun berkurang sesuai dengan hasil riset penemuan manusia sebagai makhluk yang dibekali akal. sebuah ilmu bisa dianggap benar dimasa lalu namun bisa jadi sudah tidak cocok dimasa depan ketika dilakukan penelitian baru. Jadi ada dua jalan besar yang bisa kita tempuh sebagai usaha dalam mencari ilmu pengetahuan, cara pertama yaitu dengan melihat buku panduan yang diberikan oleh Tuhan lalu memcocokan dengan alam semesta sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam menjalani hidup. cara kedua yaitu dengan melakukan riset sendiri sebagai usaha mencari dan mengumpulkan pengertian tentang alam serta peristiwa yang terjadi. mengingat sungguh berharganya sebuah ilmu maka ada berbagai macam fungsi yang dapat dilihat disini, jadi apa pengertian ilmu menurutmu? kita dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan kosong tanpa ilmu oleh karena itu wajib belajar agar memperoleh kemudahan dalam menjalani hidup, selamat menuntut ilmu selagi masih ada kesempatan karena batasanya yaitu dari lahir sampai masuk ke liang kubur :-)
Teknologi
Pada pertengahan abad ke-20, manusia telah mencapai kecukupan teknologi untuk kali pertama meninggalkan atmosfer Bumi dan menjelajahi ruang angkasa. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan, dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana. Penemuan prasejarah tentang kemampuan mengendalikan api telah menaikkan ketersediaan sumber-sumber pangan, sedangkan penciptaan roda telah membantu manusia dalam beperjalanan, dan mengendalikan lingkungan mereka. Perkembangan teknologi terbaru, termasuk di antaranya mesin cetak, telepon, dan Internet, telah memperkecil hambatan fisik terhadap komunikasi dan memungkinkan manusia untuk berinteraksi secara bebas dalam skala global. Tetapi, tidak semua teknologi digunakan untuk tujuan damai; pengembangan senjata penghancur yang semakin hebat telah berlangsung sepanjang sejarah, dari pentungan sampai senjata nuklir.
Teknologi telah memengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Di banyak kelompok masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi (termasuk ekonomi global masa kini) dan telah memungkinkan bertambahnya kaum senggang. Banyak proses teknologi menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan, dan merusak Bumi dan lingkungannya. Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat, dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan etika baru. Sebagai contoh, meluasnya gagasan tentang efisiensi dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnynya hanya menyangku permesinan, contoh lainnya adalah tantangan norma-norma tradisional.
bahwa keadaan ini membahayakan lingkungan, dan mengucilkan manusia; penyokong paham-paham seperti transhumanisme dan tekno-progresivisme memandang proses teknologi yang berkelanjutan sebagai hal yang menguntungkan bagi masyarakat, dan kondisi manusia. Tentu saja, paling sedikit hingga saat ini, diyakini bahwa pengembangan teknologi hanya terbatas bagi umat manusia, tetapi kajian-kajian ilmiah terbaru mengisyaratkan bahwa primata lainnya, dan komunitas lumba-lumba tertentu telah mengembangkan alat-alat sederhana, dan belajar untuk mewariskan pengetahuan mereka kepada keturunan mereka.
Seni
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.
Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.

B.     PANDANGAN ISLAM TERHADAP IPTEKS
“Islam sangat kompleks dalam hal mengatur dan menentukan apa yang terbaik untuk umatnya, begitu juga dalam hal IPTEK dan Seni”
Didalam pandangan Islam iptek bersifat netral yaitu iptek bisa memberikan dampak positif dan negatif, sehingga islam memandang iptek berdasarkan niat , motivasi , tujuan dan dampak penggunaannya.Oleh karena itu ILMU dan juga IMAN adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan , karena dengan ilmu dan iman yang baik maka ilmu tersebut dapat dipastikan akan memberiakn manfaat dan dampak positif bagi seluruh umat manusia.
Peran Islam dalam perkembangan iptek dan seni pada dasarnya ada banyak. Pertama, menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan dan seni. Paradigma inilah yang seharusnya dimiliki umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Paradigma Islam ini menyatakan bahwa Aqidah Islam wajib dijadikan landasan pemikiran (qa’idah fikriyah) bagi seluruh ilmu pengetahuan. Ini bukan berarti menjadi Aqidah Islam sebagai sumber segala macam ilmu pengetahuan, melainkan menjadi standar bagi segala ilmu pengetahuan. Maka ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Aqidah Islam dapat diterima dan diamalkan, sedang yang bertentangan dengannya, wajib ditolak dan tidak boleh diamalkan. Kedua, menjadikan Syariah Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar bagi pemanfaatan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang seharusnya yang digunakan umat Islam, bukan standar manfaat (pragmatisme/utilitarianisme) seperti yang ada sekarang. Standar syariah ini mengatur, bahwa boleh tidaknya pemanfaatan iptek, didasarkan pada ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam). Umat Islam boleh memanfaatkan iptek dan mengembangkan seni, jika telah dihalalkan oleh Syariah Islam. Sebaliknya jika suatu aspek iptek dan seni telah diharamkan oleh Syariah, maka tidak boleh umat Islam memanfaatkannya, walau pun ia menghasilkan manfaat sesaat untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh perdaban barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan iptek modern membuat orang lalu mengagumi dan meniru- niru gaya hidup peradaban barat tanpa dibarengi sikap kritis trhadap segala dampak negatif yang diakibatkanya.
Bukan hanya itu saja, pengaruh barat tidak hanya pada bidang iptek saja, tetapi juga pada bidang seni. Misalnya penyanyi di jaman sekarang sebagian besar memakai pakaian yang sangat minim, dan tidak menutup aurat.
Kenyataan menyedihkan tersebut sudah selayaknya menjadi cambuk bagi kita bangsa Indonesia yang mayoritas muslim untuk gigih memperjuangkan iptek dan seni yang islami.
Pada dasarnya kita hidup di dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Ada banyak cara untuk beribadah kepada Allah SWT seperti sholat, puasa, dan menuntut ilmu. Menuntut ilmu ini hukumnya wajib. Seperti sabda Rasulullah SAW: “ menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban atas setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Ilmu adalah kehidupanya islam dan kehidupanya keimanan.

C.    LANDASAN IPTEKS DALAM ISLAM
            Ilmu pengetahuan yang terus berkembang pesat dan membentuk cabang  ilmu masing-masing secara spesifik yang dikenal dengan disiplin ilmu. Ilmu pengetahuan yang berisi tentang teori-teori yang telah dikembangkan dalam bentuk aplikasi praktis itu disebut dengan teknologi, teknologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang berkembang secara mandiri, menciptakan dunia tersendiri. Akan tetapi teknologi tidak mungkin berkembang tanpa didasari ilmu pengetahuan yang kokoh. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. keduanya berkembang pesat  dalam kehidupan manusia modern saat ini yang memberikan manfaat dalam membantu manusia mencapai kesejahteraan hidup.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini, tidak bisa dipungkiri, banyak menghantarkan manusia kepada kemudahan efektivitas, dan efesiensi hidup. Dengan IPTEK manusia telah mampu meraih apa yang dulu dianggap sesuatu yang mustahil. Namun disisi lain, kemajuan IPTEK membawa akses negatif dan destruktif yang merugikan dan mengancam keberlangsungan umat manusia dan alam lingkungan. Proses dehumanisasi dan terancamnya keseimbangan ekologis dan kelestariannya alam, merupakan imbas negatif dari kemajuan IPTEK. Oleh karena itu, ilmuwan tidak cukup hanya dengan ilmunya saja, tetapi harus dibekali dengan iman dan takwa.
Dengan begitu, hasil-hasil kemajuan IPTEK akan dijadikan sebagai sarana bagi manusia untuk mengeksiskan dirinya sebagai khalifah di bumi, di samping sebagai “abdun”, hamba Allah. Ilmuwan yang beriman dan bertaqwa akan memanfaatkan kemajuan IPTEK. Menjaga, memelihara, melestarikan, keberlangsungan hidup manusia dan keseimbangan ekologi dan bukan untuk fasad fil ardh (Kerusakan di bumi). Firman Allah SWT:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS.Ar.Ruum: 41)
Dari ayat diatas, menjelaskan  kerusakan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang akan berdampak kembali pada manusia itu sendiri. Fenomena ini telah terasa salah satunya disebabkan oleh penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya “ Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam islam di arahkan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan. IPTEK merupakan alat atau media bukan tujuan”.(Toto Suryana:2008:140)  Oleh karena itu ilmu pengetahuan dan teknologi jangan sampai mengatur manusia sebagai penciptannya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya untuk menyertakan nilai-nilai ke dalam  IPTEK yang disebut dengan Islamisasi ilmu pengetahuan,”Islamisasi ilmu pengetahuan bertujuan untuk menyertakan nilai-nilai islam ke dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ilmu tidak berdiri sendiri  di tempat netral, namun  menjadi dasar pemikiran ilmiah saat ini”.(Toto Suryana: 2008:140)
Cara islam sendiri memfilter ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu sesuai dengan paradigma islam yaitu Aqidah islam sebagai dasar IPTEK dan syariat islam menjadi standarisasi IPTEK,

D.    IPTEKS DAN RAHMATAN LIL ALAMIN
            Jakarta, 29/9/2010 (Kominfonewscenter) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap komponen bangsa untuk terus menciptakan rasa aman, rasa tenteram, kerukunan dan sikap saling menghargai.
Dalam sambutan pada pembukaan Muktamar XIV Persatuan Islam (Persis) di Kompleks Masjid Aisyiah, Tasikmalaya, akhir minggu lalu, Persiden SBY juga mengajak segenap komponen bangsa membangun peradaban Islam yang luhur dan agung di negeri ini, dimana abad ke-21 ini peradaban akan ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
”Peradaban itulah yang harus kita tumbuhkembangkan sebagai manifestasi dari konsep Islam sebagai rahmatan lil’alamin, Islam sebagai rahmat bagi semesta alam”, kata Presiden Yudhoyono.
Presiden mengemukakan implementasi konsep rahmatan lil’alamin sesungguhnya bertumpu pada tiga dimensi utama, yaitu dimensi akidah, dimensi ilmiah dan dimensi akhlaqul kharimah.
Dimensi akidah akan menundukkan kita kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dimensi ilmiah akan menampilkan kita sebagai umat yang memiliki kecerdasan intelektual, kemandirian dan daya saing. Dan dimensi akhlak mulia meniscayakan kita untuk mengembangkan sikap lapang dada dan toleransi.
”Melalui ketiga dimensi itu pula, kita dapat membangun tatanan dunia yang beradab dan penuh harmoni”, kata Presiden.
Presiden menilai tepat tema Muktamar Persis yang menegaskan peran Persis dalam menampilkan wajah Islam sebagai rahmatan lil ’alamin, karena menegaskan dan meneguhkan kepada kita semua bahwa Islam haruslah menjadi rahmat, memberi manfaat bagi manusia dan alam sekitarnya.
Tema ini juga penting karena mengajak kita semua untuk menampilkan wajah Islam yang teduh, yang damai, dan yang mencerahkan, Islam yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan alam semesta.
Presiden berharap para ulama Persis terus meningkatkan kualitas dakwah dengan memberikan perhatian besar pada visi keislaman, visi kebangsaan dan visi kesejahteraan.
”Salurkan energi positif keagamaan para Jami’yah Persis untuk bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya mengatasi berbagai masalah keumatan dan kebangsaan”, kata Presiden.
Presiden juga berharap Persis membangun terus kemitraan dengan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan umat., mengambil bagian dalam menjembatani dan membangun kebersamaan sekaligus menebarkan keteduhan, kedamaian dan keteladanan, sehingga Islam yang rahmatan lil’alamin sungguh dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.









E.     AL QURAN : SUMBER DAN INSPIRATORY PENGEMBANGAN IPTEKS
            Al-Qur’an merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam semua aspek kehidupan masyarakat muslim. Al-Qur’an mempunyai fungsi dan peranan penting dari berbagai sisi kehidupan yang terus berkembang. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber hukum, inspirasi, pedoman, kepribadian, kekuatan dan dasar dalam masyarakat muslim. Al-Qur’an menyimpan semua rahasia isi alam. Alam menjadi kajian dan pembahasan yang menarik bagi para ilmuwan dan teknolog dalam perjalanan perkembangan zaman. Rahasia yang ada di alam seolah-olah tidak pernah habisnya. Sejarah telah membuktikan bahwa pada abad pertengahan umat Islam mencapai puncak peradabannya.
Sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam mampu menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi  melebihi atau melampaui kemampuan umat sebelumnya dan umat yang lain sezamannya. Umat Islam mampu menguasai ilmu kedokteran, ilmu perbintangan, ilmu pasti, ilmu alam, ilmu hitung dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Semua hal itu tidak terlepas dari peran dan aktivitas para ilmuwan muslim yang selalu menggali, mendalami, memahami serta mencari berbagai rahasia alam dan ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam Al-Qur’an. Para ilmuwan muslim menempatkan Al-Qur’an  sebagai sumber  juga sebagai paradigma kerangka berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak berbagai penemuan para ilmuwan muslim yang sangat mengagumkan dalam dunia sains dan teknologi.
Dan ketika para ilmuwan muslim atau umat Islam mulai mengabaikan, meninggalkan serta menjauhkan kajian Al-Qur’an yang mendalam dari aktivitas keilmuan dan aktivitas kehidupan, maka di situlah titik awal kemunduran umat Islam. Dan hal itu terus berlangsung sampai saat ini, dan kalau ada kajian-kajian Al-Qur’an itu hanya sebatas kajian biasa bukan kajian yang mendalam. Suatu kajian untuk menemukan rahasia alam dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an dan hadits telah dijadikan sebagai dasar bagi semua aktivitas ilmiah dalam sejarah islam[1].
Maka wajarlah apabila penemuan-penemuan ilmuwan muslim sekarang ini kurang begitu berarti dibanding ilmuwan barat dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika puncak peradaban Islam, Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber kajian dalam ilmu pengetahuan sehigga mampu menemukan berbagai penemuan yang sangat luar biasa dari barbagai disiplin ilmu dan teknologi, tapi sekarang Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai rujukan atau pembanding ketika ada penemuan baru dari ilmuwan barat. Penemuan para ilmuwan dicocok-cocokan dengan Qur’an padahal penemuan itu sudah ada ribuan tahun dalam Qur’an. Maka apabila para ilmuwan muslim atau Umat Islam ingin kembali menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam harus kembali menjadikan Qur’an sebagai kajian utama yang mendalam,dalam istilah penulis ialah Re-paradigma atau kembali menjadikan Qur’an sebagai kerangka berpikir dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

F.     MENGGALI IPTEKS DALAM ALQURAN
            Setiap dua tahun, Pemerintah kita selain menyelenggarakan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) juga  Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional. Pada tahun 2013 ini, Seleksi Tilawatil Qur’an Nasional ke 22 dilaksanakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang lokasinya di Koba Kabupaten Bangka Tengah.  Provinsi Banten mengikutsertakan semua cabang yaitu Tilawah, Tahfidz dan Tafsir Bahasa Arab dengan jumlah rombongan sebanyak 85 orang sebagai kafilah terbanyak yang hampir sama banyaknya dengan kafilah Provinsi DKI. Ajang STQ ini untuk memotivasi umat Islam dalam menggali nilai-nilai yang terkandung dalam alQur’an, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Diantara isi dan kandungan al-Qur’an adalah ilmu pengetahuan.
Allah Swt menurunkan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW surat Al-Alaq  ayat 1-5   adalah perintah untuk membaca atau belajar dan menggunakan akalnya. “ Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari, segumpal darah . Bacalah dan dari Tuhanmulah apa yang datang. Yang mengajarkan dengan petunjuk, yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya”. 
Turunnya ayat yang pertama tersebut, menunjukkan bersanya perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan.  Demikian pula ketika Allah SWT mengangkat Adam AS sebagai manusia pertama menjadi  khalifah-Nya di muka bumi dan bukan para Malaikat-Nya karena adanya ilmu pengetahuan. Dalam Surat Al-Baqoroh ayat 31-32 Allah berfirman. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Dengan dimilikinnya ilmu pengetahuan itu, Allah SWT memuliakan Adam AS sehingga memerintahkan malaikat-Nya untuk bersujud kepada Adam AS. Allah Swt menempatkan disisi Allah  mempunyai derajat paling tinggi di sisi Allah SWT. Dalam surat Al-Mujaadilah ayat 11 Allah berfirman” Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Allah Swt. memuliakan orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, karena dengan bekal iman mengantarkan  manusia kepada ketinggian di akhirat (filakhirati khasanah), dan ilmu pengetahuan membawa manusia kepada ketinggian hidup di dunia (fid dunya khasanah).
Dalam mengangkat seorang pemimpin, ajaran Islam mempersyaratkan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dan fisik yang sehat sebagaimana dinyatakan dalam surat Albaqoroh (2) ayat 247 “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Firmal Allah tersebut di atas menunjukkan betapa tinggi penghargaan Islam kepada nilai-nilai Ilmu dan nilai-nilai kesehatan.  Bahkan Allah SWT melarang manusia untuk melakukan suatu pekerjaan atau amal perbuatan tanpa memiliki ilmunya sebagaimana diabadikan dalam Q.S. Al-Isra’(17) : 36). “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Bukti kandungan Iptek dalam al-Qur’an
Dalam Alqur’an yang diturunkan 14 abad silam,  ketika ilmu astronomi masih terbelakang. Allah Swt berfirman dalam surah Az-Zariyat [51] ayat 47: "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya."
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoretis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.
''Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang (Harun Yahya) . Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang".
Zagloul Mohamed El-Naggar seorang ilmuwan Mesir , dalam ceramahnya di UIN Syarif Hidyatullah tahun 2010 silam mengatakan, semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), semakin terungkap pula keajaiban kitab suci Al Quran. "Al Quran bukan buku ilmu pengetahuan,tetapi ayat-ayat mengenai alam semesta (kauniyah) terbukti dalam penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini,"  Ia mengupas berbagai penemuan ilmiah mengenai alam semesta yang mengamini hakikat kebenaran AlQuran.  Ayat-6 Surat Al Thur, "Al Bahril Masjuuri" (Demi lautan yang bergelombang) lautan yang di dalam tanah bawah laut itu ada api,  telah terbukti secara ilmiah oleh para ahli geologi dan ilmu kelautan bahwa dasar semua samudra dipanasi oleh jutaan ton magma yang keluar dari perut bumi.  bahwa magma tersebut keluar melalui jaringan rengkahan raksasa yang secara total merobek lapisan litosfir dan sampai kelapisan astenosfir. "Para ilmuwan yang jujur akan kagum melihat kepeloporan Al Qur’an dan hadis-hadis Nabi terkait petunjuk tentang fakta-fakta ilmiah bumi, yang baru dapat dibuktikan pada akhir abad ke-20 seiring dengan kemajuan iptek.  Fakta ilmiah lain,  yaitu Ayat 15 dan 16 Surat At Takwir: "Fala Uqsimu bil khunnas. Al Jawaril Kunnas" (Maka sungguh Aku bersumpah demi bintang-bintang. Yang beredar dan terbenam). Para ahli astronomi pada akhir abad ke-20 menemukan fakta ilmiah, yaitu black hole (lubang hitam).  Black hole adalah planet yang ditandai dengan densitas yang tinggi dan gravitasi yang kuat, tempat zat dan semua bentuk energi, termasuk cahaya, tidak mungkin lepas dari perangkapnya. Disebut lubang hitam karena ia sangat gelap tak terlihat, dengan kecepatan geraknya diperkirakan mencapai 300.000 km per detik. Black hole dianggap sebagai fase tua kehidupan bintang, yang didahului ledakan dan zatnya kembali menjadi nebula. "Fakta ini baru terungkap pada akhir abad ke-20, yakni 14 abad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW".
 Alquran sejak 14 abad yang lalu dalam surat An-Nisaa ayat 23  telah mengharamkan pernikahan dekat,  “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-sadara ibumu yang perempuyan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, saudara-saudara perempuanmu dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusuimu, saudara-saudara perempuan yang sepersusuan...”
Para pakar genetika menyimpulkan, hasil kajian menunjukkan adanya penumpukan sifat-sifat minder atau lemah yang terdapat dalam jiwa anak-anak hasil pernikahan dekat. Hal ini kembali pada asal keturunan mereka yang memiliki gen sifat mundur, yang mengakibatkan munculnya sifat keraguan atau kebimbangan yang merugikan dalam kemampuan dan struktur organ tubuh anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Bukti-bukti atas barus sebagian kecdil saja, tentu jika dianalisis secara mendalam masih banyak ayat-ayat alqur’an yang mengandung fakta ilmiah.

Soal !
1)      Jelaskan yang dimaksud Ilmu , Pengetahuan , Ilmu Pengetahuan , Teknologi , dan Seni?
2)      Bagaimana pandangan islam tentang Ipteks?
3)      Apa yang dijadikan Umat Islam paradigma Ipteks dan jelaskan?
4)      Jelaskan pendapat anda untuk memfilter perkembangan Ipteks?
5)      sebutkan apa yang ada di konsep rahmatan lil'alamin dalam Ipteks?
6)      jelaskan dimensi-dimensi yang mengimplementasi konsep rahmatan lil'alamin dalam Ipteks?
7)      Jelaskan Peran Al-Qur'an dalam perkembangan Ipteks?
8)      Apa yang menjadikan ilmuwan muslim tidak begitu berarti dari ilmuwan barat?
9)      Apa pendapat anda tentang Surah Al-Alaq ayat 1-5?
10)  Sebutkan dalil bahwa Al-Qur'an yang membuktikan bahwa penemuan-penemuan itu telah diungkapkan dalam Al-Qur'an?



Read More..