Social Icons

Senin, 20 Februari 2012

PERMAINAN TRADISIONAL JAWA

Dimainkan Oleh Anak Laki-laki

Permainan Layangan

Permainan ini terbuat dari kertas tipis dan bambu dengan ukuran sebesar lidi untuk dibuat kerangka yang berbentuk macam-macam sesuai keinginan si pembuat. Bentuk pelaksanaan permainannya bersifat hiburan, rekreatif, dan kompetitif.
Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak laki-laki dengan tidak mengenal batas usia dan tidak pandang kaya atau miskin.

Permainan Yoyo
Sebuah benda yang terbuat dari kayu dibentuk menyerupai roda berbelah dan berporos di bagian dalam, untuk memainkan alat tersebut dengan bantuan tali yang pada kedua ujungnya disatukan pada kalep dari bahan kulit yang dikaitkan pada poros tersebut. Bentuk permainannya bersifat hiburan dan dimainkan secara tunggal, dan biasanya dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia antara 7 - 15 tahun.
 





Permainan Wayang Kaper

Dalam bahasa Melayu Kuno Wayang berarti bayangan sedangkan Kaper berupa kupu-kupu kecil yang terbang pada malam hari. Berarti  wayang kaper berarti suatu pertunjukan wayang dalam ukuran kecil dan biasanya dilakukan oleh anak laki-laki. Pertunjukan ini biasanya hanya sebagai latihan mendalang, memainkan anak wayang, dan memvisualkan jalan ceritanya, serta tidak diiringi dengan musik gamelan.
 

Permainan Marraga/Akraga
Marraga/mandaga berasal dari bahas Bugis yang artinya bermain atau bersepak raga, sedangkan orang Makasar menyebutnya akraga.
Permainan ini berasal dari jenis peralatan permainan yang digunakan yaitu raga atau sejenis bola yang terbuat dari rotan yang terbelah-belah diraut halus kemudian dianyam (sekarang dikenal sebagai bola takrow). Jumlah pemain sekitar 5-15 orang dengan tingkat usia anak-anak sampai dewasa dan pada umumnya anak laki-laki.




Permainan Begasing
Bagasing ini terbuat dari kayu ulin yang sangat keras dengan bentuk bagian atas bulat disebut kepala dengan diameter 1,5cm, tinggi 2 cm pada bagian puncak dibuat agak miring, sedangkan ditengan berbentuk bulat semakin kebawah semakin runcing. titik pertemuan ini harus pada pertengahan sehingga gasing ini seimbang, tinggi gasing 10-15 cm, cara bermainnya dengan bantuan tali, yaitu menarik tali tersebut sehingga gasing terlepas ketanah dan berputar. Permainan ini biasanya dilakukan oleh 2-4 orang anak-anak maupun dewasa dan khususnya laki-laki.

Permainan Oleh Anak Perempuan

Permainan Beklen (Bekel)
Permainnan bekel ini  merupakan adu ketangkasan antara 2 atau 4 orang anak perempuan yang berumur 7-12 tahun, alat yang dipergunakan adalah bola bekel dari karet berdiameter 3cm dan kulit kerang atau kewuk/kuningan yang berjumlah 10 buah.

Permainan Congkak
Permainan ini dilakukan oleh perempuan baik anak-anak maupun dewasa, pemain berjumlah 2 orang, alat yang digunakan dari kayu berbentuk sperti perahu dengan panjang 80cm dan lebar 15 cm, dan tinggi 10 cm, pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut indung atau induk.
diantara ke2 induk terdapat lubang kecil beriameter 5 cm dan setiap deret berjumlah 7 lubang, lubang tsb diisi dengan biji-bijian sebagai alat bermain. 



Permainan Dhakonan
Dhakon atau congklak biasanya dimainkan oleh anak perempuan berjumlah 2 orang, alat ini terbuat dari kayu menyerupai perahu dikedua ujungnya bermotif naga dalam posisi lebih tinggi, alat ini mempunyai cekungan besar di kedua ujung , dan cekungan kecil  berjumlah ganjil 7 atau 9 buah berjajar sepanjang badan perahu.

Permainan Encrak
Permainan ini dilakukan oleh dua hingga empat orang anak wanita dengan menggunakan kerikil atau biji-bijian, dari kerikil tsb. diambil salah satu buah sebagai kokojo, permainan dilakukan dengan cara membalikkan telapak tangan yang mewadahi kerikil, sehingga tertumpah, dan diupayakan tertahan oleh punggung  tangan kemudian kokojo tsb dilempar keatas dan ditangkap kembali, pada saat kokojo ada diudara kerikil yang berserakan diambil satu persatu atau lebih, pergantian pemain dilakukan apabila kerikil tsb tidak dapat di tangkap.




Permainan Kerang
Permainan ini dilakukan diatas lantai rumah yang dilakukan  oleh anak perempuan berusia 8 - 14 tahun dengan jumlah pemain 2-5 orang atau lebih  yang dilakukan sendiri atau kelompok. Permainan menggunakan kulit kerang berjumlah 12 atau 18 asal dalam jumlah kelipatan enam dan menggunakan bola kasti.


Dilakukan Oleh Anak-anak



Permainan Nsya Asya/Tok Asya'
Istilah Nsya artinya menggelinding lingkaran rotan, Asya  artinya tali rotan dan lingkarannya, sedangkan Tok  Asya artinya melempar atau menikam  lingkaran dengan tombak kayu/nibung. Jadi istilah nsya asya/tok asya berarti menggulingkan atau melarikan roda dari arah lawan yang satu ke arah yang lainnya sambil melempar atau menikam.
Permainan ini merupakan permainan tradisional yang bersifat rekreasi dan dilakukan oleh anak-anak  kaum pria saja. dan biasanya diikuti oleh 2 sampai dengan 20 orang (berimbang).


Permainan Batu Lele
Permainan ini merupakan bentuk  adu ketangkasan dan hiburan bagi anak-anak. Peralatan yang digunakan adalah 2buah tongkat yang terbuat dari rotan atau kayu bulat dengan panjang perbandingan 1:3 tongkat yang pendek disebut anak sedang yang panjang disebut induk. Cara bermainnya yaitu dengan menggali lubang pada tanah dengan posisi miring sekitar 25 derajat, kemudian memukul ujung anak tongkat tsb sampai terangkat keatas yang kemudian disusul dengan pukulan berikutnya.





Permainan Ketekhan
Ketekhan berasal dari bahas Lampung yang artinya kitiran.
Permainan ini digolongkan pada permainan rekreatif dan kompetitif, permainan ini dilakukan oleh anak-anak dengan jumlah pemain 2 atau lebih, permainan ini terbuat dari karet yang dilubangi  dari atas sampai bawah kemudian dilengkapi dengan baling-baling, serta benang sehingga dengan menarik benang tersebut baling-baling dapat berputar.

Permainan Manuk kurung
Manuk kurung berarti ayam kurungan. Permainan ini dilakukan anak laki-laki dan bersifat hiburan. Ketentuan bermain dengan membentuk kelompok atau regu yang masing-masing regu akan menunjuk satu ketua yang disebut pakembar, kemudian setiap regu bersembunyi untuk memilih pemain yang berperan sebagai ayam, setelah terpilih kemudian dikurung dengan sarung, selanjutnya kedua ketua membawanya kearena untuk  saling mengelabuhi sesama ayam dalam kurungan tersebut.




Permainan Bedil Locok
Permainan Bedil Locok  berasal dari daerah Lampung yang artinya senapan locok. Permainan ini biasanya dilakukan oleh anak laki-laki  dan berjumlah antara 2 atau lebih yaitu dari salah satu pemain sebagai penembak dan yang lainnya sebagai pemain yang ditembak. Senapan locok  ini terbuat dari bambu, diameter 0,5 cm panjang 20-25 cm dengan alat pelocoknya, sedangkan sebagai peluru digunakan beberapa tandan buah sermi (sebangsa tumbuhan belukar yang buahnya bertandan dan bulat).




Permainan Pulu-pulu
Pulu-pulu dalam bahasa Sangihe Talaud artinya hulu atau penghulu, berarti bermain pulu-pulu sama dengan bermain penghulu- penghuluan. permainan ini dilakukan oleh kaum pria pada waktu petang atau malam hari ditepi laut atau halaman yang luas sebagai latihan ketangkasan fisik dan juga ketahanan mental. Alat yang diperguanakan adalah tempurung sebagai sepatu diikat dengan tali ijuk dan dipegang kedua tangan. jenis perlombaannya yaitu dengan cara lari menggunakan sepatu dari tempurung tersebut sampai garis finish.

Dilakukan orang dewasa



Permainan Calung
Pada mulanya calung adalah nama Kaulinan urang lembur yaitu permainan masyarakat yang bertujuan untuk menghibur diri, alat yang dipakai adalah bilah-bilah bambu yang disusun berantai dengan tali, mulai dari yang berukuran pendek sampai panjang.
Sekarang calung merupakan seni pertunjukan dengan dikombinasi alat musik berupa melodi, penerus, bonang, jengglong, gong dan kosrek. Permainan calung berfungsi sebagai media informasi dan publikasi melalui dialog antar pemain dengan penuh improvisasi yang sifatnya menghibur serta diselingi lagu-lagu daerah yang khas dari Jawa Barat.

Permainan Bahempas
Bahempas berasal dari bahas dayak yang berarti memukul. Permainan ini biasanya dilakukan pada saat upacara adat kwangkai, ngungu tahunan dan upacara panenan. Peralatan yang dipakai dalam permainan ini antara lain: tameng, rotan bulat, ikat kepala, sarung tangan dan diiringi dengan musik gong dan kelentang. Setelah musik dibunyikan semua orang berkumpul disuatu lapangan dengan membuat lingkaran, dan selanjutnya para pemain masuk kedalamnya untuk memulai pertandingan tersebut.




Permainan No Maca (permainan macan)
Permainan ini mempunyai hubungan dengan peristiwa kedudukan, karena hanya dapat dimainkan  pada malam ke 1, 3, 7 dan 40 di rumah duka, pemain tidak terbatas asalkan berpasangan setiap satu pasang terdiri 2 orang yang saling berhadapan. alat yang dipergunakan adalah papan nomaca (tempat bermain) biji-bijian, 16 buah ukuran kecil dan 16 buah ukuran sedang yang berlainan warna, untuk dpasang kedalam papan yang sudah diberi garis-garis sebelumnya.
Pemain yang terlebih dahulu biji buahnya habis dalam arena maka dinyatakan kalah.

Permainan Caci (ketangkasan memukul/mencambuk)
Caci berasal dari bahasa Manggarai (NTT) ci gici ca yang berarti satu demi satu. Permainan ini dimainkan oleh kaum pria  baik secara perorangan maupun antar suku. Permainan caci tercipta dari gerakan-gerakan perkelahian pada masa itu, seperti memukul, menangkis, menendang dsb. Permainan ini bersifat kompetitif, syukuran, kegembiraan, dan kekeluargaan yang mengandung nilai-nilai relegius-magis. Pada mulanya permainan ini dilakukan pada pesta-pesta adat , dan bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Dewa tertinggi Mori Kraeng agar terhindar dari hama penyakit, sedangkan pada saat ini dilaksanakan pada upacara perkawinan dan perayaan hari-hari besar nasional yang bertujuan untuk menyemarakkan keramian suasana.







Permainan Baleba
Permainan Baleba ini dilakukan oleh 2 orang laki-laki dewasa dengan memakai alat 2 potong kayu panjang 50 cm, dengan diiringi musik  gendang.
Permainan ini dilaksakan pada kegiatn upacara adat seperti khitanan, perkawinan dan acara keramaian lainnya. Permainan ini dilakukan dengan saling memukul lawannya dan masing masing berusaha agar pukulannya tidak mengenai tubuh mereka, pada saat musik dibunyikan semakin keras permainan akan semakin seru pula.


Menggunakan Peralatan



Permainan Mappadendang
Mappadendang berasal dari Bugis artinya dendang atau dekko yang berarti irama atau alunan bunyi. Permainan ini dilakukan oleh remaja putra-putri dan terikat suatu acara adat apapun. Peserta 6-15 orang, dengan peralatan lesung (tempat menumbuk padi) dan alu. cara bermain masing-masing pemain memegang alu  dan memukul lesung dengan judul-judul irama tradisional, permainan ini biasanya dilakukan setelah musim panen padi atau pada acara perkawinan oleh para sinoman sewaktu istirahat.
Permainan Parise
Parise berarti Perisai, yang pada jaman dahulu merupakan permainan persembahan kepada Sultan Bima dan upacara adat perkawinan putra raja, khitanan, maulid Nabi, pelantikan raja di istana. Permainan ini masing-masing membawa alat yang berupa tende, teta dan cambuk. Setiap pasangan saling mencambuk 3 kali, kemudian diganti pasangan yang lain. Jika pemain sudah selesai giliran mencambuk, maka pihak penangkis mencampakkan teta ke tanah, lalu kedua pemain bertukar alat untuk memulai saling mencambuk.






Permainan Bedil bambu
Permainan tradisional ini hampir ada diseluruh daerah yang berada di indonesia hanya saja namanya tentu berbeda-beda, permainan ini terbuat dari bambu dengan panjang 1-3 meter, pada semua bagian ruas dilubangi  selain pada bagian pangkal yang hanya dilubangi atasnya selebar ibu jari, selanjutnya dimasukkan kain yang disertai dengan minyak tanah.
Permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari terutama pada bulan puasa dan menjelang hari raya indul fitri.

Permainan Egrang
Egrang terdiri dari 2 potongan bambu sepanjang 210 cm dengan injakan kaki 30 cm, cara bermain egrang ini sangat membutuhkan keseimbangan badan si pemain, yaitu dengan cara menaruh kedua tapak kaki pada injakan dan ke2 tangan memegang tongkat bagian atas. Permainan ini dapat juga diperlombakan yaitu dengan menempuh jarak 100-200 meter untuk terlebih dahulu mencapai garis finish.





Permainan Makepung
Permainan ini berasal dari daerah Bali yang merupakan permainan bertanding dan bersifat ketrampilan fisik, dilakukan di tanah lapang atau persawahan. Peralatan yang diperguanakan dalam permainan ini antara lain: cikar, uga, keroncongan, pecut dan binatang penariknya adalah dua ekor kerbau jantan atau sapi jantan dengan seorang sais. Permainan ini biasanya dipertandingkan kecepatan serta kesigapan kerbau atau sapi dalam menarik padi dari sawah ke rumah masing-masing.

Beberapa Jenis Permainan Tradisional Yang tanpa menggunakan peralatan dan bisa dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan (gabungan)



Permainan Adang-adangan
Permainnan  ini  dilakukan oleh anak laki-laki atau perempuan dengan jumlah pemain minimal 6 orang, dalam permainan ini tidak menggunakan alat khusus, hanya diperlukan tempat yang luas dan terbuka diberi garis petak- petak sejumlah 8 buah yang masing-masing berukuran 3 meter bujursangkar.

Permainan Mappolo Becceng
Istilah Mappolo Becceng berasal dari (Bugis) sama dengan  permainan Landar-Lundur (Jakarta), dalam permainan ini ada 2 pihak yaitu pihak jaga dan pihak jalan. Cara bermainnya regu jaga saling duduk menjulurkan kedua kakinya (selonjor), kemudian pihak jalan berusaha melompati susunan kaki pihak jaga.  




Permainan Petak umpet
Permainan tradisional ini hampir ada diseluruh daerah yang berada di indonesia hanya saja namanya tentu berbeda-beda, pemain biasanya berjumlah genap 6 atau 8 orang. Dalam permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari agar pada waktu bersembunyi tidak terlihat oleh si penjaga.

Permainan Nokaluri
Nokaluri adalah istilah dari Sulawesi Tengah yang artinya Hadang, permainan ini dilakukan oleh dua  kelompok  dan setiap kelompok berjumlah 5 orang, 1 orang bertindak sebagai pimpinan dan tidak menggunakan alat kecuali lapangan sebagai tempat bermain.
Bentuk permainan ini bersifat hiburan, namun terdapat unsur-unsur pendidikan, seni dan olah raga. Maka dari itu dalam permainan ini banyak aturan yang harus dipatuhi.




| LG |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar